JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat
beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi,
Grounded
Theory, dan Etnografi.
A.
PENJELASAN
GROUNDED THEORY
Tujuan dari studi grounded theory adalah untuk bergerak keluar dari deskripsi dan
untuk memunculkan atau menemukan teori. Strauss & Corbin (dalam Creswell,
2013) menjelaskan bahwa ide pentingnya adalah pengembangan teori ini tidak
muncul dengan sendirinya, tetapi dimunculkan atau didasarkan pada data dari
para partisipan yang telah mengalami proses tersebut. Maka dari itu, grounded theory merupakan desain riset
kualitatif yang penelitiannya memunculkan penjelasan umum (teori) tentang
proses, aksi, atau interaksi yang dibentuk oleh pandangan dari sejumlah besar
partisipan. Grounded theory disediakan
untuk memunculkan teori (lengkap dengan diagram dan hipotesis) tentang aksi,
interaksi, atau proses dengan saling menghubungkan kategori informasi berdasarkan
pada data yang dikumpulkan dari individu.
B.
KARAKTERISTIK
GROUNDED THEORY
Ada
beberapa ciri utama dari grounded theory yang
mungkin terdapat dalam penelitian:
1. Penelitian
memfokuskan pada proses atau aksi yang memiliki tahapan atau fase khas yang
terjadi sepanjang waktu. Maka dari itu, studi grounded theory meneliti gerakan aksi yang berusaha dijelaskan oleh
peneliti.
2. Peneliti
berusaha mengembangkan teori tentang proses atau aksi ini. Penjelasan atau
pemahaman ini menyatukan, dalam grounded
theory kategori teoritis yang dirangkai dalam memperlihatkan bagaimana
mereka bekerja.
3. Memoing menjadi bagian dari pengembangan teori ketika
peneliti menuliskan ide berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis.
4. Bentuk
utama dari pengumpulan data sering kali adalah wawancara yang penelitinya secara
konstan membandingkan data yang dikumpulkan dari para partisipan dengan ide
tentang teori baru.
5. Analisis
data dapat distrukturkan dan mengikuti pola pengembangan kategori terbuka,
memilih satu kategori untuk menjadi fokus dari teori tersebut dan kemudian
memperinci kategori tambahan (coding aksial)
untuk membentuk model teoritis.
C.
TIPE/JENIS
GROUNDED THEORY
Dua pendekatan populer dalam grounded theory adalah prosedur sistematis (Strauss 1990 &
Corbin 1990) dan pendekatan konstruktivis dari Charmaz (2005, 2006). Dalam
prosedur yang lebih analitis dan sistematis, peneliti berusaha mengembangkan
secara sistematis teori yang menjelaskan proses atau interaksi dari topik.
Peneliti biasanya melakukan 20 sampai 30 wawancara ketika melakukan kunjungan
ke lapangan. Peneliti juga mengumpulkan dan menganalisa berbagai hasil
pengamatan dan dokumen, tetapi bentuk data ini sering kali tidak digunakan.
Para partisipan yang diwawancarai dipilih secara teoritis (disebut samping teoritis) agar peneliti dapat
membentuk teorinya dengan baik. Proses pengambilan informasi dari pengumpulan
data ini dan pembandingannya dengan
kategori baru disebut metode analisi data komperatif konstan.
Peneliti
mengawalinya dengan coding terbuka mengodekan
data untuk kategori informasi utamanya. Dari koding itu, muncul koding aksial
yang penelitinya mengidentifikasi satu kategori koding terbuka untuk dijadikan
fokus (disebut fenomena inti)., dan menciptakan kategori seputar fenomena inti
tersebut. Strauss dan Corbin (1990) merumuskan berbagai tipe ke
kategori-kategori yang diidentifikasi seputar fenomena inti. Tipe-tipe itu
adalah kondisi kausal (faktor apa
saja yang menyebabkan fenomena tersebut) strategi
(tindakan yang dilakukan dalam merespon fenomena inti), kondisi kontekstual
dan kondisi penganggu (faktor
situasional yang meluas maupun spesifik, yang memengaruhi strategi) dan konsekuensi (hasil dari penggunaan
strategi).
Varian kedua grounded
theory dapat ditemukan dalam gagasan konstruktivis dari Charmaz (Creswell,
2013). Charmaz mendukung perspektif konstruktivis sosial yang mencakup
penekanan pada beragam dunia lokal, beragam realitas dan kompleksitas dari
dunia, pandangan, dan aksi tertentu. Menurut Charmaz (dalam Creswell, 2013) grounded
theory konstruktivis terletak tepat pada pendekatan interpretatif dalam
penelitian kualitatif dengan pedoman yang fleksibel, fokus pada teori yang
dikembangkan yang bergantung pada pandangan peneliti, yang mempelajari
tentang pengalaman dalam jaringan,
situasi, dan hubungan yang tertanan dan tersembunyi dan memperlihatkan hirearki
kekuasaan, komunikasi dan kesempatan. Charmaz menganjurkan penggunaan kode
aktif misalnya frasa berbasis grounded seperti
recasting life. Prosedur grounded theory juga tidak mengecilkan
peran dari peneliti dalam proses tersebut. Peneliti membuat keputusan tentang
kategori di sepanjang proses tersebut, mengajukan pernyataan tentang data, dan
menjelaskan nilai, pengalaman, dan prioritas pribadi. Setiap kesimpulan yang
dikembangkan oleh para teoritis dasar bersifat sugestif, tidak lengkap dan
inkonklusif.
D.
PROSEDUR
PELAKSANAAN RISET GROUNDED THEORY
Langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menentukan
apakah penelitian grounded theory paling
baik untuk memperlajari riset tersebut. Grounded
theory adalah riset yang paling baik digunakan ketika tidak didapatkan
teori untuk menjelaskan atau memahami proses.
2.
Pertanyaan riset peneliti yang akan
diajukan kepada para partisipan akan diarahkan untuk memahami bagaimana
individu mengalami proses tersebut dan mengidentifikasi tahap pada proses
tersebut.
3. Selanjutnya
adalah mengajukan pertanyaan yang lebih detail yang akan membantu membentuk
tahap coding aksial. Pertanyaan ini
biasanya ditanyakan dalam wawancara , meskipun bentuk data yang lain mungkin
juga dikumpulkan misalnya, pengamatan, dokumen, dan bahan audiovisual.
4. Analisis
data berlangsung secara bertahap. Dalam coding
terbuka, peneliti membentuk kategori informasi tentang fenomena yang sedang
dipelajari dengan mensegmentasi informasi.
5. Dalam
coding aksial, peneliti menyusun data
dalam cara baru setelah koding terbuka. Dalam pendekatan terstruktur ini,
peneliti menyajikan paradigma coding atau
diagram logika yang penelitiannya
menidentifikasi fenomena sentral mengeksplorasi
kondisi kausal, menentukan strategi
, mengidentifikasi konteks dan pengganggu, dan menggambarkan konsekuensi.
6. Dalam
coding selektif, peneliti dapat
menulis “alur cerita” yang menghubungkan beberapa kategori.
7. Hasil
dari proses pengumpulan data dan analisis data ini adalah suatu teori, teori level-substansial, yang ditulis
oleh seorang peneliti yang dekat dengan permasalahan atau populasi tertentu.
Teori tersebut muncul dengan bantuan dari proses memoing yang penelitinya menulis ide tentang teori baru selama
proses coding terbuka, aksial dan
selektif.
E.
CONTOH
PENELITIAN GROUNDED THEORY
1. Judul
Penelitian : Pengalaman Mahasiswa
Dalam Melakukan Wirausaha Informasi: Sebuah Penelitian Grounded Theory
2. Peneliti : Afdini Rihlatul Mahmudah &
Hariyah
3. Latar
Belakang : Beberapa mahasiswa bahkan
sarjana yang baru lulus mengalami kebingungan karena belum memiliki atau
sepenuhnya mampu menguasai keterampilan atau keahlian yang dibutuhkan di dunia
kerja. Hal ini karena belum ada sebuah sistem yang baik dan saling terhubung
antara dunia pendidikan dan dunia kerja secara interpreneurship atau jiwa kewirausahaan mahasiswa yang belum
terbangun. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam mengahadapi situasi tersebut
adalah dengan membangun jiwa wirausaha informasi pada mahasiswa. Infopreneurship akan menciptakan lulusan
yang dinamis yang cukup fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perubahan dan
tuntutan pasar.
4. Tujuan
Penelitian : Untuk mengatahui proses
pemaknaan wirausaha informasi berdasarkan pengalaman dan kegiatan yang pernah
dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas
Indonesia.
5. Metode
Penelitian : Penelitian ini besifat
kualitatif dengan menggunakan grounded
theory. Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan penelitian yang
dilakukan, yaitu membangun teori berdasarkan pandangan responden.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk memperoleh data adalaha wawancara,
observasi dan kajian dokumen. Data tersebut dianalisis berdasarkan model
analisis data konstruktivisme berupa transkripsi data dan interpretasi data
melalui pengkodean terbuka (open coding),
pngkodean beralas (axial coding), dan
pengkodean terseleksi (selective coding)
6. Hasil
dan Kesimpulan : Kesimpulan yang
diperoleh dari penelitian ini adalah sebuah definisi wirausaha informasi.
Definisi tersebut adalah pekerjaan dalam bidang informasi yang dapat dilakukan,
baik secara mandiri maupun berkelompok, dengan fleksibilitas dalam waktu dan
tempat pengerjaannya, berupa kegiatan pencarian informasi, pembuatan web dan
sistem perpustakaan, konsultan perpustakaan, pengajar, dan pustakawan sehingga
menghasilkan uang, menambah pengalaman dan ilmu, serta mengembangkan aktivitas
sosial.
F.
SUMBER
Mahmudah & Hariyah. 2016. Pengalaman Mahasiswa
Dalam Melakukan Wirausahan Informasi: Sebuah Penelitian Grounded Theory. Jurnal Dokumentasi dan Informasi, 37 (2),
Halaman 12-135.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative
Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition.
SAGE Publication: California.