Selasa, 05 November 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN GRUNDED THEORY DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN GROUNDED THEORY
Tujuan dari studi grounded theory adalah untuk bergerak keluar dari deskripsi dan untuk memunculkan atau menemukan teori. Strauss & Corbin (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa ide pentingnya adalah pengembangan teori ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dimunculkan atau didasarkan pada data dari para partisipan yang telah mengalami proses tersebut. Maka dari itu, grounded theory merupakan desain riset kualitatif yang penelitiannya memunculkan penjelasan umum (teori) tentang proses, aksi, atau interaksi yang dibentuk oleh pandangan dari sejumlah besar partisipan. Grounded theory disediakan untuk memunculkan teori (lengkap dengan diagram dan hipotesis) tentang aksi, interaksi, atau proses dengan saling menghubungkan kategori informasi berdasarkan pada data yang dikumpulkan dari individu.

B.     KARAKTERISTIK GROUNDED THEORY
Ada beberapa ciri utama dari grounded theory yang mungkin terdapat dalam penelitian:
1.      Penelitian memfokuskan pada proses atau aksi yang memiliki tahapan atau fase khas yang terjadi sepanjang waktu. Maka dari itu, studi grounded theory meneliti gerakan aksi yang berusaha dijelaskan oleh peneliti.
2.      Peneliti berusaha mengembangkan teori tentang proses atau aksi ini. Penjelasan atau pemahaman ini menyatukan, dalam grounded theory kategori teoritis yang dirangkai dalam memperlihatkan bagaimana mereka bekerja.
3.      Memoing  menjadi bagian dari pengembangan teori ketika peneliti menuliskan ide berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis.
4.      Bentuk utama dari pengumpulan data sering kali adalah wawancara yang penelitinya secara konstan membandingkan data yang dikumpulkan dari para partisipan dengan ide tentang teori baru.
5.      Analisis data dapat distrukturkan dan mengikuti pola pengembangan kategori terbuka, memilih satu kategori untuk menjadi fokus dari teori tersebut dan kemudian memperinci kategori tambahan (coding aksial) untuk membentuk model teoritis.
 
C.    TIPE/JENIS GROUNDED THEORY
Dua pendekatan populer dalam grounded theory adalah prosedur sistematis (Strauss 1990 & Corbin 1990) dan pendekatan konstruktivis dari Charmaz (2005, 2006). Dalam prosedur yang lebih analitis dan sistematis, peneliti berusaha mengembangkan secara sistematis teori yang menjelaskan proses atau interaksi dari topik. Peneliti biasanya melakukan 20 sampai 30 wawancara ketika melakukan kunjungan ke lapangan. Peneliti juga mengumpulkan dan menganalisa berbagai hasil pengamatan dan dokumen, tetapi bentuk data ini sering kali tidak digunakan. Para partisipan yang diwawancarai dipilih secara teoritis (disebut samping teoritis) agar peneliti dapat membentuk teorinya dengan baik. Proses pengambilan informasi dari pengumpulan data  ini dan pembandingannya dengan kategori baru disebut metode analisi data komperatif konstan.
 Peneliti mengawalinya dengan coding terbuka mengodekan data untuk kategori informasi utamanya. Dari koding itu, muncul koding aksial yang penelitinya mengidentifikasi satu kategori koding terbuka untuk dijadikan fokus (disebut fenomena inti)., dan menciptakan kategori seputar fenomena inti tersebut. Strauss dan Corbin (1990) merumuskan berbagai tipe ke kategori-kategori yang diidentifikasi seputar fenomena inti. Tipe-tipe itu adalah kondisi kausal (faktor apa saja yang menyebabkan fenomena tersebut) strategi (tindakan yang dilakukan dalam merespon fenomena inti), kondisi kontekstual dan kondisi penganggu (faktor situasional yang meluas maupun spesifik, yang memengaruhi strategi) dan konsekuensi (hasil dari penggunaan strategi).
Varian kedua grounded theory dapat ditemukan dalam gagasan konstruktivis dari Charmaz (Creswell, 2013). Charmaz mendukung perspektif konstruktivis sosial yang mencakup penekanan pada beragam dunia lokal, beragam realitas dan kompleksitas dari dunia, pandangan, dan aksi tertentu. Menurut Charmaz (dalam Creswell, 2013)  grounded theory konstruktivis terletak tepat pada pendekatan interpretatif dalam penelitian kualitatif dengan pedoman yang fleksibel, fokus pada teori yang dikembangkan yang bergantung pada pandangan peneliti, yang mempelajari tentang  pengalaman dalam jaringan, situasi, dan hubungan yang tertanan dan tersembunyi dan memperlihatkan hirearki kekuasaan, komunikasi dan kesempatan. Charmaz menganjurkan penggunaan kode aktif misalnya frasa berbasis grounded seperti recasting life. Prosedur grounded theory juga tidak mengecilkan peran dari peneliti dalam proses tersebut. Peneliti membuat keputusan tentang kategori di sepanjang proses tersebut, mengajukan pernyataan tentang data, dan menjelaskan nilai, pengalaman, dan prioritas pribadi. Setiap kesimpulan yang dikembangkan oleh para teoritis dasar bersifat sugestif, tidak lengkap dan inkonklusif.

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET GROUNDED THEORY
Langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan apakah penelitian grounded theory paling baik untuk memperlajari riset tersebut. Grounded theory adalah riset yang paling baik digunakan ketika tidak didapatkan teori untuk menjelaskan atau memahami proses.
2.      Pertanyaan riset peneliti yang akan diajukan kepada para partisipan akan diarahkan untuk memahami bagaimana individu mengalami proses tersebut dan mengidentifikasi tahap pada proses tersebut.
3.      Selanjutnya adalah mengajukan pertanyaan yang lebih detail yang akan membantu membentuk tahap coding aksial. Pertanyaan ini biasanya ditanyakan dalam wawancara , meskipun bentuk data yang lain mungkin juga dikumpulkan misalnya, pengamatan, dokumen, dan bahan audiovisual.
4.      Analisis data berlangsung secara bertahap. Dalam coding terbuka, peneliti membentuk kategori informasi tentang fenomena yang sedang dipelajari dengan mensegmentasi informasi.
5.      Dalam coding aksial, peneliti menyusun data dalam cara baru setelah koding terbuka. Dalam pendekatan terstruktur ini, peneliti menyajikan paradigma coding atau diagram logika yang penelitiannya menidentifikasi fenomena sentral mengeksplorasi kondisi kausal, menentukan strategi , mengidentifikasi konteks dan pengganggu, dan menggambarkan konsekuensi.
6.      Dalam coding selektif, peneliti dapat menulis “alur cerita” yang menghubungkan beberapa kategori.
7.      Hasil dari proses pengumpulan data dan analisis data ini adalah suatu teori, teori level-substansial, yang ditulis oleh seorang peneliti yang dekat dengan permasalahan atau populasi tertentu. Teori tersebut muncul dengan bantuan dari proses memoing yang penelitinya menulis ide tentang teori baru selama proses coding terbuka, aksial dan selektif.

E.     CONTOH PENELITIAN GROUNDED THEORY
1.      Judul Penelitian     : Pengalaman Mahasiswa Dalam Melakukan Wirausaha Informasi: Sebuah Penelitian Grounded Theory
2.      Peneliti                  : Afdini Rihlatul Mahmudah & Hariyah
3.      Latar Belakang      : Beberapa mahasiswa bahkan sarjana yang baru lulus mengalami kebingungan karena belum memiliki atau sepenuhnya mampu menguasai keterampilan atau keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja. Hal ini karena belum ada sebuah sistem yang baik dan saling terhubung antara dunia pendidikan dan dunia kerja secara interpreneurship atau jiwa kewirausahaan mahasiswa yang belum terbangun. Salah satu solusi yang ditawarkan dalam mengahadapi situasi tersebut adalah dengan membangun jiwa wirausaha informasi pada mahasiswa. Infopreneurship akan menciptakan lulusan yang dinamis yang cukup fleksibel dan dapat beradaptasi dengan perubahan dan tuntutan pasar.
4.      Tujuan Penelitian  : Untuk mengatahui proses pemaknaan wirausaha informasi berdasarkan pengalaman dan kegiatan yang pernah dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia.
5.      Metode Penelitian : Penelitian ini besifat kualitatif dengan menggunakan grounded theory. Pemilihan metode ini didasarkan pada tujuan penelitian yang dilakukan, yaitu membangun teori berdasarkan pandangan responden. Langkah-langkah yang dilakukan untuk memperoleh data adalaha wawancara, observasi dan kajian dokumen. Data tersebut dianalisis berdasarkan model analisis data konstruktivisme berupa transkripsi data dan interpretasi data melalui pengkodean terbuka (open coding), pngkodean beralas (axial coding), dan pengkodean terseleksi (selective coding)
6.      Hasil dan Kesimpulan       : Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebuah definisi wirausaha informasi. Definisi tersebut adalah pekerjaan dalam bidang informasi yang dapat dilakukan, baik secara mandiri maupun berkelompok, dengan fleksibilitas dalam waktu dan tempat pengerjaannya, berupa kegiatan pencarian informasi, pembuatan web dan sistem perpustakaan, konsultan perpustakaan, pengajar, dan pustakawan sehingga menghasilkan uang, menambah pengalaman dan ilmu, serta mengembangkan aktivitas sosial.

F.     SUMBER
Mahmudah & Hariyah. 2016. Pengalaman Mahasiswa Dalam Melakukan Wirausahan Informasi: Sebuah Penelitian Grounded Theory. Jurnal Dokumentasi dan Informasi, 37 (2), Halaman 12-135.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Selasa, 22 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN FENOMENOLOGI DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN FENOMENOLOGI
Studi Fenomenologi mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Para fenemenolog memfokuskan untuk mendeskripsikan apa yang sama/umum dari semua pertisipan ketika mereka mengalami fenomena (misalnya, dukacita yang dialami secara universal).
Tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman hidup pada fenomena menjadi deskripsi tentang esensi atau intisari universal. Pengalaman manusia dapat berupa insomnia, kemarahan, dukacita, kesendirian, atau pengalaman operasi (Moustakas dalam Creswell, 2013). Peneliti kemudain mengumpulkan data dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut, dan mengembangkan deskripsi gabungan tentang esensi dari pengalaman tersebut bagi semua individu.
Di luar prosedur ini, fenomenologi memiliki komponen filofosi yang kuat. Pada level yang lebih luas, Stewart dan Mickunas (1990) menekankan empat perspektif filosofi dalam fenomenologi:
1.       Pengembalian pada tugas tradisional filsafat.
2.      Filsafat tanpa persangkaan.
3.      Intensionalitas kesadaran.
4.      Penolakan terhadap dikotomi objek-objek.
5.  Seorang individu yang menulis fenomenologi tidak lupa untuk memasukkan sebagian pembahasan tentang fenomenologi di samping metode dalam bentuk penelitian ini.

B.     KARAKTERISTIK FENOMENOLOGI
Terdapat beberapa ciri yang secara khas terdapat dalam semua studi fenomenologis.
1.      Penekanan pada fenomena yang hendak dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau ide tunggal, misalnya ide pendidikan tentang “pertumbuhan profesional”m konsep psikologis tentang “dukacita” atau ide kesehatan tentang “hubungan keperawatan”.
2.      Eksplorasi fenomena pada kelompok individu yang semuanya teah mengalami fenomena tersebut.
3.  Pembahasan filosofi tentang ide dasar yang dilibatkan dalam studi fenomenologi. Fenomenologi terletak diantara penelitian kualitatif dan kuantitatif.
4.    Pada sebagain bentuk fenomenologi, peneliti mengurung  dirinya di luar studi tersebut dengan membahas pengalaman pribadinya dengan fenomena tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya mengeluarkan peneliti dari studi tersebut, tetapi hal ini berfungsi untuk mengidentifikasi pengalaman pribadi dengan fenomena tersebut dan sebagian untuk mengeluarkan pengalaman itu, sehingga peneliti dapat berfokus pada pengalaman dari para partisipan dalam studi tersebut.
5.      Proses pengumpulan data yang secara khas melibatkan wawancara terhadap individu yang telah mengalami fenomena tersebut.
6.      Analisis data yang dapat mengikuti prosedur sistematis  yang bergerak dari satuan analisis yang sempit, (misalnya pernyataan penting) menuju satuan yang lebih laus (misalnya satuan makna) kemudian menuju deskripsi yang lebih detail yang merangkum dua unsur yiatu “apa” yang telah dan bagaimana mengalami mereka telah mengalaminya (Moustakas dalam Creswell, 2013).
7.      Fenomenologi diakhiri dengan bagian deskriptif yang membahas esensi dari pengalaman yang dialami individu tersebut dengan melibatkan “apa” yang telah mereka alami dan “bagaimana” mereka mengalaminya.
 
C.    TIPE/JENIS FENOMENOLOGI
Ada dua pendekatan dalam fenomenologi yang disoroti dalam pembahasan ini, yaitu femenologi hermeneutik (Van Manen, 1990) dan fenomenologi empiris, transdental, atau psikologis (Moustakas, 1994). Van Manen (dalam Creswell., 2013) menulis buku pelajaran tentang fenemenologi hermeneutik dan mendeskripsikan bahwa riset diarahkan pada pengalaman hidup (fenomenologi) dan ditujukan untuk menafsirkan teks. Mereka menulis deskripsi tentan fenomena tersebut, memelihara  hubungan yang kuat dengan topik penelitian dan menyeimbangkan bagian-bagian dari tulisan tersebut terhadap keseluruhannya.
 Fenemenologi transdental atau psikologi dari Moustakas (1994) kurang berfokus pada penafsiran dari peneliti, namun lebih berfokus pada deskripsi tentang pengalaman dari partisipan tersebut. Moutakas berfokus pada konsep Husserls, apoche (atau pengurungan), yang para penelitinya menyingkirkan pengalaman mereka, sejauh mungkin, untuk memperoleh perspektif yang segar (baru) seolah-olah untuk pertamakaliya.

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET FENOMENOLOGI
Langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan apakah masalah risetnya paling baik dipelajari dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Permasalahan yang cocok untuk riset ini adalah permasalahan untuk memahami pengalaman yang sama atau bersama dari beberapa individu pada fenomena.
2.      Fenomena yang menarik misalnya kemarahan, profesionalisme, atau apa yang dimaksud dengan kurang berat badan. Van Manen (1990) mengidentifikasikan fenomena seperti pengalaman dalam belajar, mengendarai sepeda, atau permulaan sebagai ayah.
3.      Peneliti mengenali dan menentukan asumsi filosofi yang luas dari fenomenologi. Untuk dapat mendeskripsikan secara penuh bagaimana para partisipan melihat fenomena tersebut, para peneliti harus menyingkirkan sejauh mungkin, pengalaman mereka.
4.      Data dikumpulkan dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Sering kali pengumpulan data dalam studi fenomenologi dilakukan melalui wawancara yang mendalam dengan para partisipan.
5.      Para partisipan diberi dua pertanyaan umum (Moustaka 1994): Apakah yang anda alamai terkait fenomena tersebut? Konteks atau situasi apakah yang biasanya memengaruhi pengalaman anda dengan fenomena tersebut?. Pertanyaan lain tentu dapat diberikan juga, kedua pertanyaan ini divberikan untuk mengumpulkan data yang mengantar pada deskripsi  tekstual dan struktural tentang pengalaman, dan dapat memberikan yang lebih baik tentang pengalaman yang sama dari para partisipan.
6.      Langkah analisis data fenomenologi secara umum sama untuk semua fenomenolog psikologis yang membahas metode. Berdasarkan pada data dari pertanyaan riset yang pertama dan kedua, analisis data memeriksa data tersebut (misalnya transkrip wawancara) dan menyoroti berbagai pertanyaan penting, kalimat atau kutipan yang menyediakan pemahaman tentang bagaimana pertisipan mengalami fenomena tersebut. Lalu peneliti mengembangkan berbagai kelompok makna dari pernyataan penting ini menjadi berbagai tema.
7.      Pernyataan penting dan tema ini kemudian digunakan untuk menulis deskripsi tentang apa yang dialami oleh partisipan (deskripsi tekstural).
8.      Dari deskripsi tekstural dan tekstural tersebut, peneliti kemudian menulis deskripsi gabungan yang mempresentasikan esensi dari fenomena, disebut struktur invarian esensial.

E.     CONTOH PENELITIAN FENOMENOLOGI
1.      Judul Penelitian     : Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua
2.      Peneliti                  : Irianto dan Subandi
3.      Latar Belakang      : Kebahagiaan merupakan suatu konsep yang menggambarkan kondisi individu ketika mengarahkan perasaannya pada hal yang positif dan memanfaatkan karakter positif yang dimiliki untuk memaknai peristiwa-peristiwa yang dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berhubungan dengan wilayah perbatasan luar negeri. Pendidikan diperlukan agar masyarakat di daerah perbatasan dapat mengenyam pendidikan. Maka guru-guru diperlukan di daerah tersebut, terutama di daerah pedalaman. Guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman, menunjukkan bahwa mereka telah memehami makna identitas dan integritasnya dengan baik sebagai seorang guru. Bagaimanakah kebahagiaan guru yang bertugas di pedalaman Papua dan apa karakter positif dari kebahagian guru-guru dalam memenuhi tuntutan kinerjanya secara profesional di pedalaman Papua?
4.      Tujuan Penelitian  : Mengkaji dan menganalisis secara mendalam nilai-nilai kebahagiaan serta mengeksplorasi karakter positif yang diwujudkan dalam proses belajar mengajar di pedalaman Papua.
5.      Metode Penelitian : Pendekatan kualitatif fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Partisipasi sebanyak tiga orang dan proses pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.
6.      Hasil dan Kesimpulan       : Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengerahkan perasaannya ke hal-hal yang positif berdasarkan pengalaman selama mengabdi, yaitu: ketika siswa-siswa di pedalaman dapat mengikuti pelajaran yang diberikan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dapat menunjukkan identitas guru, dan mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat maupun keluarga mereka.

F.     SUMBER
Irianto & Subandi. 2015. Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua. Gadjah Mada Journal Of Psychology, Volume 1, No 3.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Selasa, 15 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN STUDI KASUS DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN STUDI KASUS
Riset studi kasus mencakup studi tentang suatu kasus dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting kontemporer (Yin, 2009). Penelitian studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitiannya mengeksplorasi kehidupan-nyata, sistem terbatas kontemporer (kasus) atau berbagai sistem terbatas (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang detail dna mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi atau sumber informasi majemuk (misal pengamatan, wawancara, bahan audiovisual, dan dokumen dan berbagai laporan), dan melaporkan deskripsi kasus dan teman kasus. Satuan analisis dalam studi kasus bisa berupa kasus majemuk (studi muti-situs) atau kasus tunggal (studi dalam-situs).

B.     KARAKTERISTIK STUDI KASUS
Tinjauan singkat terhadap berbagai studi kasus kualitatif yang dilaporkan dalam berbagai literatur menghasilkan berbagai ciri khas:
1.      Riset studi kasus dimulai dengan mengindentifikasi satu kasus yang spesifik. Kasus ini dapat berupa entitas yang konkret, misalnya individu, kelompok kecil, organisasi atau kemitraan.
2.      Tujuan dari pelaksanaan studi kasus tersebut juga penting. Studi kasus kualitatif dapat disusun untuk mengilustrasikan kasus yang unik, kasus yang memiliki kepentingan yang tidak biasa dalam dirinya dan perlu dideskripsikan atau diperinci. Kasus ini disebut kasus intrinsik (Stake dalam Creswell, 2013). Jika tujuan dari studi kasus adalah untuk memahami isu, problem, atau keprihatinan yang spesifik (misalnya kehamilan remaja) dan kasus atau beberapa kasus diseleksi untuk dapat memahami permasalahan tesebut dengan baik. Kasus ini disebut kasus instrumental (Stake dalam Creswell, 2013).
3.      Ciri utama dari studi kasus kualitatif yang baik adalah studi kasus itu memperlihatkan pemahaman mendalam tentang kasus tersebut. Peneliti dapat mengumpulkan beragam bentuk data kualitatif, mulai dari wawancara, pengamatan, dokumen hingga bahan audiovisual.
4.      Pemilihan pendekatan untuk analisis data dalam studi kasus akan berbeda-beda. Sebagian studi kasus melibatkan analisis terhadap unit-unit dalam kasus tersebut (misalnya sekolah, distrik sekolah), sementara itu bagian lain melaporkan tentang keselurhan kasus (misalnya distrik sekolah).
5.      Agar analisisnya dapat dipahami dengan baik, riset studi kasus yang baik juga melibatkan deskripsi tentang kasus tersebut. Deskripsi ini berlaku untuk studi kasus intrinsik maupun instrumental. Di samping itu, peneliti dapat mengidentifikasi tema atau isu/masalah atau situasi spesifik yang hendak dipelajari dalam masing-masing kasus.
6.      Di samping itu tema atau masalah itu dapat diorganisasikan menjadi kronologi oleh peneliti, menganalisis keseluruhan kasus untuk mengetahui berbagai persamaan dan perbedaan diantara kasus tersebut, atau menyajikan dalam suatu model teoritis.
7.      Studi kasus sering diakhiri dengan kesimpulan yang dibentuk oleh peneliti tentang makna keseluruhan yang diperoleh dari kasus atau kasus tersebut.
 
C.    TIPE/JENIS STUDI KASUS
Tipe studi kasus dibedakan berdasarkan ukuran batasan dari studi kasus tersebut, misal apakah studi kasus tersebut melibatkan satu individu, atau beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, atau suatu aktivitas. Studi kasus juga dapat dibedakan dalam hal tujuan dari analisis kasusnya. Terdapat tiga variasi dalam ha tujuan, yaitu studi kasus instrumental tunggal, studi kasus kolektif atau majemuk, dan studi kasus intrinsik.
1.      Studi Kasus Intrumental Tunggal
Dalam studi kasus instrumental tunggal (Stake dalam Creswell 2013), peneliti memfokuskan pada isu atau persoalan, kemudian memilih satu kasus terbatas untuk mengilustrasikan persoalan ini.
2.      Studi Kasus Kolektif atau Majemuk
Dalam studi kasus kolektif atau majemuk, satu isu atau persoalan juga dipilih, tetapi peneliti memilih beragam studi kasus untuk mengilustrasikan isu atau persoalan tersebut. Peneliti juga mempelajari satu program dari beberapa tempat riset atau beragam program di satu tempat tertentu. Sering kali peneliti memilih kasus majemuk untuk memperlihatkan beragam perspektif tentang isu tersebut.
3.      Studi Kasus Intrinsik
Studi kasus intrinsik adalh studi kasus yang fokusnya adalah pada kasus itu sendiri (misalnya mengevaluasi program) karana kasus tersebut menghadirkan situasi yang tidak biasa atau unik

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET STUDI KASUS
Pembahasan ini akan mengandalkan pendekatan ari Stakes (1995) dan Yin (2009).
1.      Menentukan terlebih dahulu apakah pendekatan studi kasus sudah tepat untuk mempelajari permasalahan risetnya. Studi kasus tepat digunakan ketika peneliti memiliki kasus berbatas yang dapat diidentifikasi dengan jelas atau peneliti ingin menyediakan pemahaman mendalam tentang kasus atau perbandingan dari beberapa kasu.
2.      Mengidentifikasi kasus atau beberapa kasus. Kasus mungkin melibatkan satu individu, beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, suatu peristiwa atau seseuatu aktivitas. Dalam memilih kasus mana yang hendak dipelajari, tersedia banyak kemungkinan bagi sampling purposeful.
3.      Pengumpulan data dalam riset studi kasus biasanya meluas, mengambil beragam sumber informasi, misalnya pengamatan, wawancara, dokumen, dan bahan audiovisual.
4.      Tipe analisis data dapat berupa analisis holistik dare keseluruhan kasus atau analisis melekat dari salah satu aspek dari kasus tersebut (Yin dalam Creswell, 2013).
5.      Pada tahap penafsiran akhir, peneliti melaporkan makna dari kasus tersebut, apakah kasus tersebut datang dari pembelajaran tentang persoalan dari kasus tersebut (kasus instrumental) atau pembelajaran tentang situasi yang tidak biasa (kasus intrinsik).

E.     CONTOH PENELITIAN STUDI KASUS
1.      Judul Penelitian     : Studi Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling
2.      Peneliti                  : Lisa Rahmi Ananda dan Ika Febrian Kristiana
3.      Latar Belakang      : Remaja pada umumnya membutuhkan interaksi mutual dengan teman sebaya. Semakin banyak interaksi yang dilakukan, semakin terbentuk pula kematangan sosial pada diri remaja. Kematangan sosial dapat dibentuk melalui pendidikan. Terdapat tiga jalur pendidikan di Indoneisa adalah pendidikan infromal seperti homeschooling. Homeschooling merupakan salah satu model belajar bagi anak dan merupakan pendidikan pilihan yang diselenggarakan oleh orang tua.
4.    Tujuan Penelitian  : Bertujuan untuk menggambarkan kematangan sosial pada remaja yang sedang menjalani homeschooling.
5.      Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Partisipan penelitian berjumlah 1 roang remaja yang mengikuti homeschooling dan 3 informan yaitu orangtua, guru sewaktu SD, dan teman yang bersedia menjadi partisipan penelitian.
6.    Hasil dan Kesimpulan       : Berdasarkan hasil penelitian kematangan sosial pada partisipan tergambar kan dari konsep diri yang positif, self-direction yang bagus, kemandirian dalam belajar saat itu. Dalam bersosialisasi partisipan cukup terampil berinteraksi dengan orang-ornag lintas usia atau yang tidak sebaya. Sedangkan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, partisipan mengalami sedikit kendala karena memiliki perbedaan jadwal dalam pembelajaran.

F.     SUMBER
Ananda, L. R. & Kristiana, I.F. 2017. Studi Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling. Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1).
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Selasa, 08 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN ETNOGRAFI DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN ETNOGRAFI
Etnografi berfokus pada kelompok yang memiliki kebudayaan yang sama, mungkin saja kelompok yang kecil, misalnya sejumlah pengajar dan sekelompok pekerja sosial, tetapi biasanya besar, melibatkan banyak orang yang berinteraksi, misalnya para pengajar di satu sekolah, kelompok kerja sosial komunitas.
Etnografi merupakan suatu desain kualitatif yang penelitinya mendeskripsikan dan menafsirkan pola yang sama dari nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa dari suatu kelompok berkebuyaan-sama (Harris, 1968). Agar (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa etnografi merpakan suatu cara untuk mempelajari sebuah kelompok berkebuyaan-sama sekaligus produk akhir terltulis dari riset tersebut. Para etnografer mempelajari makna dari perilaku, bahasa, dan interaksi di kalangan para anggota kelompok berkebudayaan-sama tersebut.

B.     KARAKTERISTIK ETNOGRAFI
Terdapat beberapa ciri utama dari etnografi yang baik, yaitu:
1.      Etnografi berfokus pada pengembangan deskripsi yang kompleks dan lengkap tentang kebudayaan dari kelompok, yaitu kelompok berkebudayaan sama, mungkin saja membahas keseluruhan kelompok atau bagian dari kelompok.
2.      Etnografi bukanlah studi tentang kebudayaan, tetapi studi tentang perilaku sosial dari kelompok masyarakat yang dapat diisentifikasi (Wolcott, 2008).
3.      Dalam etnografi, peneliti mencari berbagai pola (juga dideskripsikan sebagai ritual, perilaku sosial adat, atau kebiasaan) dari aktivitas mental kelompok tersebut, misalnya ide dan keyakinan yang diekspresikan melalui bahasa , atau aktivitas material, misalnya bagaimana mereka berperilaku dalam kelompok yang diekspresikan melalui tindakan mereka yang diamati oleh peneliti (Fetterman, 2010).
4.      Hal ini berarti bahwa kelompok berkebudayaan-sama tersebt telah lengkap dan berinteraksi dalam waktu yang cukup lama hingga dapat membangun pola kerja yang jelas.
5.      Di samping, itu teori memainkan peran penting dalam memfokuskan perhatian peneliti ketika melaksanakan etnografi
6.      Untuk dapat menggunakan teori tersebut untuk menemukan pola dari kelompok berkebudayaan-sama, peneliti harus terlibat dalam kerja lapangan yang lama, mengumpulkan data terutama melalui wawancara, pengamatan, simbol, artefak, dan beragam sumber data yang lain (Fetterman dalam Creswell 2013).
7.      Biasanya dalam etnografi yang bagus, tidak banyak diketahui tentang bagaimana kelompok tersebut berfungsi, misalnya bagaimana geng beroperasi, dan pembaca mengembangkan pemahaman baru tentang kelompok tersebut.
8.      Analisis ini menghadilkan pemahaman tentan bagaimana kelompok berkebudayaan-sama berjalan, yaitu bagaimana kelompok tersebut berfungsi dan bagaiamana cara hidup dari kelompok tersebut.
 
C.    TIPE/JENIS ETNOGRAFI
Ada banyak bentuk etnografi, misalnya etnografi pengakuan, riwayat hidup, auto-etnografi, etnografis-feminis, novel etnografis dan etnografi visual yang terdapat dalam fotografi dan video, dan media elektronik. Dua bentuk etnografi yang populer akan ditekankan di sini, yaitu etnografi realis dan etnografi kritis.
1.      Etnografi Realis
Etnografis realis adalah pendekatan tradisional yang digunakan oleh para antropolg kebudayaan. Van Maaen (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa etnografi realis mereflesikan suatu pendirian tertentu yang diambil oleh peneliti  terhadap para individu yang sedang diteliti. Data yang dilaporkan adalah data objektif dalam satu gaya yang terukur yang tidak terkontaminasi oleh bias pribadi, tujuan politik dan pertimbangan politik.
2.      Etnografi Kritis
Pendekatan etnografi kritis merupakan respon terhadap masyarakat sekarang, dimana sistem kekuasaan, prestise, privilese (hak istimewa), dan otoritas digunakan untuk memarginalkan individu yang berasal kelas, ras, dan gender yang berbeda. Etnografi kritis adalah satu jenis riset etnografis dimana para penulisnya memperjuangkan emanisipasi bagi kelompok  masyarakat yang terpinggirkan (Thomas dalam Creswell, 2013). Para peneliti etnografi kritis biasanya adalah individu yang  berpikiran politis yang berusaha, melalui riset untuk menentang ketidaksetaraan dan dominasi (Carspecken & Apple, dalam Creswell, 2013). Komponan utama dari etnografis kritis diantaranya orientasi bermuatan nilai, memberdayakan masyarakat dengan memberi mereka otoritas, menentang status que, dan mengemukakan persoalan tengang kekuasan dan kontrol.

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET ETNOGRAFI
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan etnografi (realis dan kritis) adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan apakah etnografi merupakan desain yang paling tepat digunakan untuk memperlajari permasalahan riset yang dimaksud. Etnografi sangat tepat digunakan jika kebutuhannya adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kelompok kebudayaan berjalan (misalnya bahasa, keyakinan, kebiasaan).
2.      Mengidentifikasi dan menentukan suatu kelompok berkebudayaan-sama yang hendak dipelajari. Biasanya kelompok yang anggotanya telah hidup bersama dalam waktu yang lama, sehingga bahasa, pola prilaku, dan sikap telah terbentuk menjadi pola yang dapat dilihat.
3.      Menyeleksi berbagai tema, permasalahan atau teori kebudayaan yang hendak dipelajari dari kelompok tersebut. Tema, permasalahan atau teori ini menyediakan suatu kerangka pengarah bagi studi tentang kelompok kebudayaan-sama tersebut.
4.      Untuk mempelajari konsep kebudayaan, harus ditentukan tipe etnografi mana  yang hendak digunakan. Barangkali bagaimana kelompok tersebut berjalan perlu dideskripsikan, atau etnografis kritis dapat mengekspos permasalahan seperti kekuasaan, hegemoni, dan memberikan advokasi bagi kelompok tertentu.
5.      Mnegumpulkan informasi dalam konteks atau lingkungan dimana kelompok tersebut hidup.
6.      Dari banyak sumber data yang telah dikumpulkan, sang etnografer menganalisis data tersebut untuk menyusun suatu deskripsi tentang kelompok kebudayaan-sama tersebut, tema yang muncul dari kelompok tersebut, dan penafsiran keseluruhan (Wolcot dalam Creswell 2013).
7.      Menyusun rangkaian aturan atau teori tentang bagaimana kelompok berkebudayaan-sama tersebut berjalan sebagai hasil akhir dari analisis ini. Hasil akhirnya adalah potret kebudayaan yang holistik dari kelompok tersebut yang mencakup pandangan dari para partisipan (emis) dan juga pandangan dari peneliti (etis). Peneliti juga dapat memberikan advokasi bagi keperluan kelompok tersebut atau menyarankan perubahan dalam masyarakat.

E.     CONTOH PENELITIAN ETNOGRAFI
1.      Judul Penelitian     : Studi Etnografi Perilaku Sosial di Pulau Sebesi Lampung
2.      Peneliti                  : Siti Kurniasih, S.A.B., M.Pd dan Prisma Tejapermana, S.Sn., M.Pd
3.   Latar Belakang      : Keberagaman masyarakat di Indonesia belum mampu menjadikan hidup bersosialisasi dengan masyarakat lainnya. Faktanya, masih ada terjadi perkelahian di antara pemuda Desa Simpang Parit dengan Desa Muara Ponco hanya karena satu kelompok tidak terima ditegur kelompok lain saat merokok ketika masa puasa. Sementara itu, di Pulau Sebesi adalah kepulauan yang sangat terkenal kesuburan tanahnya dan sebagai tujuan pariwisata. Hasil menunjukkan bahwa terbentuknya perilaku masyarakat  yang terlihat lewat perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, antara lain gotong royong, aktif kerja bakti dan saling berbagi. Perilaku sosial ini juga terlihat pada anak usia dini. Saat wisatawan datang berkunjung ke daerah mereka, dengan senang hati mereka memberikan senyuman dan menyapa tanpa takut akan kedatangan orang yang tidak dikenal. Anak-anak di Pulau Sebesi diketahui mudah membaur dengan teman-teman yang lain tanpa membedakan faktor apapun. Mereka juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi, terlihat dari kegiatan mereka yang ikut membantu orangtua bekerja tanpa paksaan dari orangtua mereka.
4.   Tujuan Penelitian  : Mendeskripsikan perilaku sosial anak usia dini di Pulau Sebesi Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
5.     Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah metode penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian ini menggunakan model spradley yang dikenal dengan proses penelitian siklikal. Pada model penelitian ini, kegiatan pengumpulan data dan analisis data dapat berjalan bersama dalam artian analisis data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data yang dilakukan peneliti selama di lapangan.
6.      Hasil dan Kesimpulan       : Hasil penelitian  menggambarkan bahwa terdapat  kegiatan atau tradisi yang dilakukan masyarakat di Pulai Sebesi dapat mengembangkan perilaku sosial anak usia dini sehingga diterima di lingkungan sosialnya. Beberapa kegiatan atau tradisi yang menunjukkan bahwa kegiatan bersama-sama sering dilakukan di Pulau Sebesi yaitu bacakan, ngelop, sakai sambayan, pejunjongan, dan kegiatan yang dilakukan bersama-sama di PAUD. Pada kehidupan sehari-hari, anak-anak di Pulau Sebesi Lampung Selatan, mau berbaur dan bergabung dalam kegiatan atau bermain bersama tanda membedakan suku, agama, ras, warna kulit dan usia anak. Mereka menghargai orang lain, berbagai dengan orang lain serta mengenal tata krama dan sopan satun sesuai dengan nilai sosial budaya di Pulau Sebesi.
7.      Saran Peneliti        : Peneliti juga memberikan beberapa saran, salah satunya adalah bagi peneliti lain diharapkan adanya penelitian lanjutan tentang deskripsi tahapan perilaku yang terlihat pada anak usia dini. Bagi pendidik dan pemerhati anak usia dini.

F.     SUMBER
Kurniasih, A. & Tejapermana, P. 2018. Studi Etnografi Perilaku Sosial Anak Di Pulau Sebesi Lampung. Jurnal Caksana-Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 2.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.
                                                                                                                                          

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN GRUNDED THEORY DAN CONTOHNYA

JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounde...