Selasa, 15 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN STUDI KASUS DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN STUDI KASUS
Riset studi kasus mencakup studi tentang suatu kasus dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting kontemporer (Yin, 2009). Penelitian studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitiannya mengeksplorasi kehidupan-nyata, sistem terbatas kontemporer (kasus) atau berbagai sistem terbatas (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang detail dna mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi atau sumber informasi majemuk (misal pengamatan, wawancara, bahan audiovisual, dan dokumen dan berbagai laporan), dan melaporkan deskripsi kasus dan teman kasus. Satuan analisis dalam studi kasus bisa berupa kasus majemuk (studi muti-situs) atau kasus tunggal (studi dalam-situs).

B.     KARAKTERISTIK STUDI KASUS
Tinjauan singkat terhadap berbagai studi kasus kualitatif yang dilaporkan dalam berbagai literatur menghasilkan berbagai ciri khas:
1.      Riset studi kasus dimulai dengan mengindentifikasi satu kasus yang spesifik. Kasus ini dapat berupa entitas yang konkret, misalnya individu, kelompok kecil, organisasi atau kemitraan.
2.      Tujuan dari pelaksanaan studi kasus tersebut juga penting. Studi kasus kualitatif dapat disusun untuk mengilustrasikan kasus yang unik, kasus yang memiliki kepentingan yang tidak biasa dalam dirinya dan perlu dideskripsikan atau diperinci. Kasus ini disebut kasus intrinsik (Stake dalam Creswell, 2013). Jika tujuan dari studi kasus adalah untuk memahami isu, problem, atau keprihatinan yang spesifik (misalnya kehamilan remaja) dan kasus atau beberapa kasus diseleksi untuk dapat memahami permasalahan tesebut dengan baik. Kasus ini disebut kasus instrumental (Stake dalam Creswell, 2013).
3.      Ciri utama dari studi kasus kualitatif yang baik adalah studi kasus itu memperlihatkan pemahaman mendalam tentang kasus tersebut. Peneliti dapat mengumpulkan beragam bentuk data kualitatif, mulai dari wawancara, pengamatan, dokumen hingga bahan audiovisual.
4.      Pemilihan pendekatan untuk analisis data dalam studi kasus akan berbeda-beda. Sebagian studi kasus melibatkan analisis terhadap unit-unit dalam kasus tersebut (misalnya sekolah, distrik sekolah), sementara itu bagian lain melaporkan tentang keselurhan kasus (misalnya distrik sekolah).
5.      Agar analisisnya dapat dipahami dengan baik, riset studi kasus yang baik juga melibatkan deskripsi tentang kasus tersebut. Deskripsi ini berlaku untuk studi kasus intrinsik maupun instrumental. Di samping itu, peneliti dapat mengidentifikasi tema atau isu/masalah atau situasi spesifik yang hendak dipelajari dalam masing-masing kasus.
6.      Di samping itu tema atau masalah itu dapat diorganisasikan menjadi kronologi oleh peneliti, menganalisis keseluruhan kasus untuk mengetahui berbagai persamaan dan perbedaan diantara kasus tersebut, atau menyajikan dalam suatu model teoritis.
7.      Studi kasus sering diakhiri dengan kesimpulan yang dibentuk oleh peneliti tentang makna keseluruhan yang diperoleh dari kasus atau kasus tersebut.
 
C.    TIPE/JENIS STUDI KASUS
Tipe studi kasus dibedakan berdasarkan ukuran batasan dari studi kasus tersebut, misal apakah studi kasus tersebut melibatkan satu individu, atau beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, atau suatu aktivitas. Studi kasus juga dapat dibedakan dalam hal tujuan dari analisis kasusnya. Terdapat tiga variasi dalam ha tujuan, yaitu studi kasus instrumental tunggal, studi kasus kolektif atau majemuk, dan studi kasus intrinsik.
1.      Studi Kasus Intrumental Tunggal
Dalam studi kasus instrumental tunggal (Stake dalam Creswell 2013), peneliti memfokuskan pada isu atau persoalan, kemudian memilih satu kasus terbatas untuk mengilustrasikan persoalan ini.
2.      Studi Kasus Kolektif atau Majemuk
Dalam studi kasus kolektif atau majemuk, satu isu atau persoalan juga dipilih, tetapi peneliti memilih beragam studi kasus untuk mengilustrasikan isu atau persoalan tersebut. Peneliti juga mempelajari satu program dari beberapa tempat riset atau beragam program di satu tempat tertentu. Sering kali peneliti memilih kasus majemuk untuk memperlihatkan beragam perspektif tentang isu tersebut.
3.      Studi Kasus Intrinsik
Studi kasus intrinsik adalh studi kasus yang fokusnya adalah pada kasus itu sendiri (misalnya mengevaluasi program) karana kasus tersebut menghadirkan situasi yang tidak biasa atau unik

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET STUDI KASUS
Pembahasan ini akan mengandalkan pendekatan ari Stakes (1995) dan Yin (2009).
1.      Menentukan terlebih dahulu apakah pendekatan studi kasus sudah tepat untuk mempelajari permasalahan risetnya. Studi kasus tepat digunakan ketika peneliti memiliki kasus berbatas yang dapat diidentifikasi dengan jelas atau peneliti ingin menyediakan pemahaman mendalam tentang kasus atau perbandingan dari beberapa kasu.
2.      Mengidentifikasi kasus atau beberapa kasus. Kasus mungkin melibatkan satu individu, beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, suatu peristiwa atau seseuatu aktivitas. Dalam memilih kasus mana yang hendak dipelajari, tersedia banyak kemungkinan bagi sampling purposeful.
3.      Pengumpulan data dalam riset studi kasus biasanya meluas, mengambil beragam sumber informasi, misalnya pengamatan, wawancara, dokumen, dan bahan audiovisual.
4.      Tipe analisis data dapat berupa analisis holistik dare keseluruhan kasus atau analisis melekat dari salah satu aspek dari kasus tersebut (Yin dalam Creswell, 2013).
5.      Pada tahap penafsiran akhir, peneliti melaporkan makna dari kasus tersebut, apakah kasus tersebut datang dari pembelajaran tentang persoalan dari kasus tersebut (kasus instrumental) atau pembelajaran tentang situasi yang tidak biasa (kasus intrinsik).

E.     CONTOH PENELITIAN STUDI KASUS
1.      Judul Penelitian     : Studi Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling
2.      Peneliti                  : Lisa Rahmi Ananda dan Ika Febrian Kristiana
3.      Latar Belakang      : Remaja pada umumnya membutuhkan interaksi mutual dengan teman sebaya. Semakin banyak interaksi yang dilakukan, semakin terbentuk pula kematangan sosial pada diri remaja. Kematangan sosial dapat dibentuk melalui pendidikan. Terdapat tiga jalur pendidikan di Indoneisa adalah pendidikan infromal seperti homeschooling. Homeschooling merupakan salah satu model belajar bagi anak dan merupakan pendidikan pilihan yang diselenggarakan oleh orang tua.
4.    Tujuan Penelitian  : Bertujuan untuk menggambarkan kematangan sosial pada remaja yang sedang menjalani homeschooling.
5.      Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Partisipan penelitian berjumlah 1 roang remaja yang mengikuti homeschooling dan 3 informan yaitu orangtua, guru sewaktu SD, dan teman yang bersedia menjadi partisipan penelitian.
6.    Hasil dan Kesimpulan       : Berdasarkan hasil penelitian kematangan sosial pada partisipan tergambar kan dari konsep diri yang positif, self-direction yang bagus, kemandirian dalam belajar saat itu. Dalam bersosialisasi partisipan cukup terampil berinteraksi dengan orang-ornag lintas usia atau yang tidak sebaya. Sedangkan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, partisipan mengalami sedikit kendala karena memiliki perbedaan jadwal dalam pembelajaran.

F.     SUMBER
Ananda, L. R. & Kristiana, I.F. 2017. Studi Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling. Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1).
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN GRUNDED THEORY DAN CONTOHNYA

JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounde...