JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat
beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus,
Fenomenologi, Grounded Theory, dan
Etnografi.
A.
PENJELASAN
STUDI KASUS
Riset studi kasus mencakup studi tentang suatu kasus
dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting
kontemporer (Yin, 2009). Penelitian studi kasus adalah pendekatan kualitatif
yang penelitiannya mengeksplorasi kehidupan-nyata, sistem terbatas kontemporer
(kasus) atau berbagai sistem
terbatas (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang detail dna mendalam
yang melibatkan beragam sumber informasi atau sumber informasi majemuk (misal pengamatan, wawancara, bahan
audiovisual, dan dokumen dan berbagai laporan), dan melaporkan deskripsi kasus dan teman kasus. Satuan analisis dalam
studi kasus bisa berupa kasus majemuk (studi muti-situs) atau kasus tunggal (studi dalam-situs).
B.
KARAKTERISTIK
STUDI KASUS
Tinjauan
singkat terhadap berbagai studi kasus kualitatif yang dilaporkan dalam berbagai
literatur menghasilkan berbagai ciri khas:
1. Riset
studi kasus dimulai dengan mengindentifikasi satu kasus yang spesifik. Kasus
ini dapat berupa entitas yang konkret, misalnya individu, kelompok kecil,
organisasi atau kemitraan.
2. Tujuan
dari pelaksanaan studi kasus tersebut juga penting. Studi kasus kualitatif
dapat disusun untuk mengilustrasikan kasus yang unik, kasus yang memiliki
kepentingan yang tidak biasa dalam dirinya dan perlu dideskripsikan atau
diperinci. Kasus ini disebut kasus intrinsik
(Stake dalam Creswell, 2013). Jika tujuan dari studi kasus adalah untuk
memahami isu, problem, atau keprihatinan yang spesifik (misalnya kehamilan
remaja) dan kasus atau beberapa kasus diseleksi untuk dapat memahami
permasalahan tesebut dengan baik. Kasus ini disebut kasus instrumental (Stake dalam Creswell, 2013).
3. Ciri
utama dari studi kasus kualitatif yang baik adalah studi kasus itu
memperlihatkan pemahaman mendalam
tentang kasus tersebut. Peneliti dapat mengumpulkan beragam bentuk data
kualitatif, mulai dari wawancara, pengamatan, dokumen hingga bahan audiovisual.
4. Pemilihan
pendekatan untuk analisis data dalam
studi kasus akan berbeda-beda. Sebagian studi kasus melibatkan analisis
terhadap unit-unit dalam kasus tersebut (misalnya sekolah, distrik sekolah),
sementara itu bagian lain melaporkan tentang keselurhan kasus (misalnya distrik
sekolah).
5. Agar
analisisnya dapat dipahami dengan baik, riset studi kasus yang baik juga
melibatkan deskripsi tentang kasus
tersebut. Deskripsi ini berlaku untuk studi kasus intrinsik maupun
instrumental. Di samping itu, peneliti dapat mengidentifikasi tema atau isu/masalah atau situasi
spesifik yang hendak dipelajari dalam masing-masing kasus.
6. Di
samping itu tema atau masalah itu dapat diorganisasikan menjadi kronologi oleh peneliti, menganalisis
keseluruhan kasus untuk mengetahui berbagai persamaan dan perbedaan diantara
kasus tersebut, atau menyajikan dalam suatu model
teoritis.
7. Studi
kasus sering diakhiri dengan kesimpulan yang dibentuk oleh peneliti tentang
makna keseluruhan yang diperoleh dari kasus atau kasus tersebut.
C.
TIPE/JENIS
STUDI KASUS
Tipe studi kasus dibedakan berdasarkan ukuran
batasan dari studi kasus tersebut, misal apakah studi kasus tersebut melibatkan
satu individu, atau beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, atau
suatu aktivitas. Studi kasus juga dapat dibedakan dalam hal tujuan dari
analisis kasusnya. Terdapat tiga variasi dalam ha tujuan, yaitu studi kasus
instrumental tunggal, studi kasus kolektif atau majemuk, dan studi kasus
intrinsik.
1. Studi
Kasus Intrumental Tunggal
Dalam
studi kasus instrumental tunggal (Stake dalam Creswell 2013), peneliti
memfokuskan pada isu atau persoalan, kemudian memilih satu kasus terbatas untuk
mengilustrasikan persoalan ini.
2. Studi
Kasus Kolektif atau Majemuk
Dalam
studi kasus kolektif atau majemuk, satu isu atau persoalan juga dipilih, tetapi
peneliti memilih beragam studi kasus untuk mengilustrasikan isu atau persoalan
tersebut. Peneliti juga mempelajari satu program dari beberapa tempat riset
atau beragam program di satu tempat tertentu. Sering kali peneliti memilih
kasus majemuk untuk memperlihatkan beragam perspektif tentang isu tersebut.
3. Studi
Kasus Intrinsik
Studi kasus intrinsik
adalh studi kasus yang fokusnya adalah pada kasus itu sendiri (misalnya mengevaluasi
program) karana kasus tersebut menghadirkan situasi yang tidak biasa atau unik
D.
PROSEDUR
PELAKSANAAN RISET STUDI KASUS
Pembahasan ini akan mengandalkan pendekatan ari
Stakes (1995) dan Yin (2009).
1. Menentukan
terlebih dahulu apakah pendekatan studi kasus sudah tepat untuk mempelajari
permasalahan risetnya. Studi kasus tepat digunakan ketika peneliti memiliki
kasus berbatas yang dapat diidentifikasi dengan jelas atau peneliti ingin
menyediakan pemahaman mendalam tentang kasus atau perbandingan dari beberapa
kasu.
2.
Mengidentifikasi kasus atau
beberapa kasus. Kasus mungkin melibatkan satu individu, beberapa individu, satu
kelompok, beberapa kelompok, suatu peristiwa atau seseuatu aktivitas. Dalam
memilih kasus mana yang hendak dipelajari, tersedia banyak kemungkinan bagi sampling
purposeful.
3. Pengumpulan
data dalam riset studi kasus biasanya meluas, mengambil beragam sumber
informasi, misalnya pengamatan, wawancara, dokumen, dan bahan audiovisual.
4. Tipe
analisis data dapat berupa analisis
holistik dare keseluruhan kasus atau analisis
melekat dari salah satu aspek dari kasus tersebut (Yin dalam Creswell,
2013).
5. Pada
tahap penafsiran akhir, peneliti melaporkan makna dari kasus tersebut, apakah
kasus tersebut datang dari pembelajaran tentang persoalan dari kasus tersebut
(kasus instrumental) atau pembelajaran tentang situasi yang tidak biasa (kasus
intrinsik).
E.
CONTOH
PENELITIAN STUDI KASUS
1. Judul
Penelitian : Studi Kasus: Kematangan
Sosial Pada Siswa Homeschooling
2. Peneliti : Lisa Rahmi Ananda dan Ika
Febrian Kristiana
3. Latar
Belakang : Remaja pada umumnya
membutuhkan interaksi mutual dengan teman sebaya. Semakin banyak interaksi yang
dilakukan, semakin terbentuk pula kematangan sosial pada diri remaja.
Kematangan sosial dapat dibentuk melalui pendidikan. Terdapat tiga jalur
pendidikan di Indoneisa adalah pendidikan infromal seperti homeschooling. Homeschooling merupakan salah satu model belajar
bagi anak dan merupakan pendidikan pilihan yang diselenggarakan oleh orang tua.
4. Tujuan
Penelitian : Bertujuan untuk
menggambarkan kematangan sosial pada remaja yang sedang menjalani homeschooling.
5. Metode
Penelitian : Metode yang digunakan adalah
metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Partisipan penelitian berjumlah
1 roang remaja yang mengikuti homeschooling
dan 3 informan yaitu orangtua, guru sewaktu SD, dan teman yang bersedia
menjadi partisipan penelitian.
6. Hasil
dan Kesimpulan : Berdasarkan hasil
penelitian kematangan sosial pada partisipan tergambar kan dari konsep diri
yang positif, self-direction yang
bagus, kemandirian dalam belajar saat itu. Dalam bersosialisasi partisipan
cukup terampil berinteraksi dengan orang-ornag lintas usia atau yang tidak
sebaya. Sedangkan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, partisipan mengalami
sedikit kendala karena memiliki perbedaan jadwal dalam pembelajaran.
F.
SUMBER
Ananda, L. R. & Kristiana, I.F. 2017. Studi
Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling.
Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1).
Creswell, J.W. (2013). Qualitative
Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition.
SAGE Publication: California.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar