Selasa, 22 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN FENOMENOLOGI DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN FENOMENOLOGI
Studi Fenomenologi mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Para fenemenolog memfokuskan untuk mendeskripsikan apa yang sama/umum dari semua pertisipan ketika mereka mengalami fenomena (misalnya, dukacita yang dialami secara universal).
Tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman hidup pada fenomena menjadi deskripsi tentang esensi atau intisari universal. Pengalaman manusia dapat berupa insomnia, kemarahan, dukacita, kesendirian, atau pengalaman operasi (Moustakas dalam Creswell, 2013). Peneliti kemudain mengumpulkan data dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut, dan mengembangkan deskripsi gabungan tentang esensi dari pengalaman tersebut bagi semua individu.
Di luar prosedur ini, fenomenologi memiliki komponen filofosi yang kuat. Pada level yang lebih luas, Stewart dan Mickunas (1990) menekankan empat perspektif filosofi dalam fenomenologi:
1.       Pengembalian pada tugas tradisional filsafat.
2.      Filsafat tanpa persangkaan.
3.      Intensionalitas kesadaran.
4.      Penolakan terhadap dikotomi objek-objek.
5.  Seorang individu yang menulis fenomenologi tidak lupa untuk memasukkan sebagian pembahasan tentang fenomenologi di samping metode dalam bentuk penelitian ini.

B.     KARAKTERISTIK FENOMENOLOGI
Terdapat beberapa ciri yang secara khas terdapat dalam semua studi fenomenologis.
1.      Penekanan pada fenomena yang hendak dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau ide tunggal, misalnya ide pendidikan tentang “pertumbuhan profesional”m konsep psikologis tentang “dukacita” atau ide kesehatan tentang “hubungan keperawatan”.
2.      Eksplorasi fenomena pada kelompok individu yang semuanya teah mengalami fenomena tersebut.
3.  Pembahasan filosofi tentang ide dasar yang dilibatkan dalam studi fenomenologi. Fenomenologi terletak diantara penelitian kualitatif dan kuantitatif.
4.    Pada sebagain bentuk fenomenologi, peneliti mengurung  dirinya di luar studi tersebut dengan membahas pengalaman pribadinya dengan fenomena tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya mengeluarkan peneliti dari studi tersebut, tetapi hal ini berfungsi untuk mengidentifikasi pengalaman pribadi dengan fenomena tersebut dan sebagian untuk mengeluarkan pengalaman itu, sehingga peneliti dapat berfokus pada pengalaman dari para partisipan dalam studi tersebut.
5.      Proses pengumpulan data yang secara khas melibatkan wawancara terhadap individu yang telah mengalami fenomena tersebut.
6.      Analisis data yang dapat mengikuti prosedur sistematis  yang bergerak dari satuan analisis yang sempit, (misalnya pernyataan penting) menuju satuan yang lebih laus (misalnya satuan makna) kemudian menuju deskripsi yang lebih detail yang merangkum dua unsur yiatu “apa” yang telah dan bagaimana mengalami mereka telah mengalaminya (Moustakas dalam Creswell, 2013).
7.      Fenomenologi diakhiri dengan bagian deskriptif yang membahas esensi dari pengalaman yang dialami individu tersebut dengan melibatkan “apa” yang telah mereka alami dan “bagaimana” mereka mengalaminya.
 
C.    TIPE/JENIS FENOMENOLOGI
Ada dua pendekatan dalam fenomenologi yang disoroti dalam pembahasan ini, yaitu femenologi hermeneutik (Van Manen, 1990) dan fenomenologi empiris, transdental, atau psikologis (Moustakas, 1994). Van Manen (dalam Creswell., 2013) menulis buku pelajaran tentang fenemenologi hermeneutik dan mendeskripsikan bahwa riset diarahkan pada pengalaman hidup (fenomenologi) dan ditujukan untuk menafsirkan teks. Mereka menulis deskripsi tentan fenomena tersebut, memelihara  hubungan yang kuat dengan topik penelitian dan menyeimbangkan bagian-bagian dari tulisan tersebut terhadap keseluruhannya.
 Fenemenologi transdental atau psikologi dari Moustakas (1994) kurang berfokus pada penafsiran dari peneliti, namun lebih berfokus pada deskripsi tentang pengalaman dari partisipan tersebut. Moutakas berfokus pada konsep Husserls, apoche (atau pengurungan), yang para penelitinya menyingkirkan pengalaman mereka, sejauh mungkin, untuk memperoleh perspektif yang segar (baru) seolah-olah untuk pertamakaliya.

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET FENOMENOLOGI
Langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan apakah masalah risetnya paling baik dipelajari dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Permasalahan yang cocok untuk riset ini adalah permasalahan untuk memahami pengalaman yang sama atau bersama dari beberapa individu pada fenomena.
2.      Fenomena yang menarik misalnya kemarahan, profesionalisme, atau apa yang dimaksud dengan kurang berat badan. Van Manen (1990) mengidentifikasikan fenomena seperti pengalaman dalam belajar, mengendarai sepeda, atau permulaan sebagai ayah.
3.      Peneliti mengenali dan menentukan asumsi filosofi yang luas dari fenomenologi. Untuk dapat mendeskripsikan secara penuh bagaimana para partisipan melihat fenomena tersebut, para peneliti harus menyingkirkan sejauh mungkin, pengalaman mereka.
4.      Data dikumpulkan dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Sering kali pengumpulan data dalam studi fenomenologi dilakukan melalui wawancara yang mendalam dengan para partisipan.
5.      Para partisipan diberi dua pertanyaan umum (Moustaka 1994): Apakah yang anda alamai terkait fenomena tersebut? Konteks atau situasi apakah yang biasanya memengaruhi pengalaman anda dengan fenomena tersebut?. Pertanyaan lain tentu dapat diberikan juga, kedua pertanyaan ini divberikan untuk mengumpulkan data yang mengantar pada deskripsi  tekstual dan struktural tentang pengalaman, dan dapat memberikan yang lebih baik tentang pengalaman yang sama dari para partisipan.
6.      Langkah analisis data fenomenologi secara umum sama untuk semua fenomenolog psikologis yang membahas metode. Berdasarkan pada data dari pertanyaan riset yang pertama dan kedua, analisis data memeriksa data tersebut (misalnya transkrip wawancara) dan menyoroti berbagai pertanyaan penting, kalimat atau kutipan yang menyediakan pemahaman tentang bagaimana pertisipan mengalami fenomena tersebut. Lalu peneliti mengembangkan berbagai kelompok makna dari pernyataan penting ini menjadi berbagai tema.
7.      Pernyataan penting dan tema ini kemudian digunakan untuk menulis deskripsi tentang apa yang dialami oleh partisipan (deskripsi tekstural).
8.      Dari deskripsi tekstural dan tekstural tersebut, peneliti kemudian menulis deskripsi gabungan yang mempresentasikan esensi dari fenomena, disebut struktur invarian esensial.

E.     CONTOH PENELITIAN FENOMENOLOGI
1.      Judul Penelitian     : Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua
2.      Peneliti                  : Irianto dan Subandi
3.      Latar Belakang      : Kebahagiaan merupakan suatu konsep yang menggambarkan kondisi individu ketika mengarahkan perasaannya pada hal yang positif dan memanfaatkan karakter positif yang dimiliki untuk memaknai peristiwa-peristiwa yang dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berhubungan dengan wilayah perbatasan luar negeri. Pendidikan diperlukan agar masyarakat di daerah perbatasan dapat mengenyam pendidikan. Maka guru-guru diperlukan di daerah tersebut, terutama di daerah pedalaman. Guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman, menunjukkan bahwa mereka telah memehami makna identitas dan integritasnya dengan baik sebagai seorang guru. Bagaimanakah kebahagiaan guru yang bertugas di pedalaman Papua dan apa karakter positif dari kebahagian guru-guru dalam memenuhi tuntutan kinerjanya secara profesional di pedalaman Papua?
4.      Tujuan Penelitian  : Mengkaji dan menganalisis secara mendalam nilai-nilai kebahagiaan serta mengeksplorasi karakter positif yang diwujudkan dalam proses belajar mengajar di pedalaman Papua.
5.      Metode Penelitian : Pendekatan kualitatif fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Partisipasi sebanyak tiga orang dan proses pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.
6.      Hasil dan Kesimpulan       : Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengerahkan perasaannya ke hal-hal yang positif berdasarkan pengalaman selama mengabdi, yaitu: ketika siswa-siswa di pedalaman dapat mengikuti pelajaran yang diberikan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dapat menunjukkan identitas guru, dan mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat maupun keluarga mereka.

F.     SUMBER
Irianto & Subandi. 2015. Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua. Gadjah Mada Journal Of Psychology, Volume 1, No 3.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN GRUNDED THEORY DAN CONTOHNYA

JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounde...