JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat
beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus,
Fenomenologi, Grounded Theory, dan
Etnografi.
A. PENJELASAN NARATIF
Czarniawska dalam (Creswell, 1994) mendefinisikan riset naratif sebagai tipe
desain kualitatif yang spesifik yang “narasinya dipahami sebagaiteks yang
dituturkan atau dituliskan dengan menceritakan tentang peristiwa/aksi, yang
berhubungan secara kronologis”. Prosedur dalam pelaksanaan riset ini dimulai dengan memfokuskan pada pengkajian
terhadap satu atau dua individu, pengumpulan data melalui cerita mereka, pelaporan
pengalaman individual, dan penyusunan kronologis atas makna dari pengalaman
tersebut (atau menggunakan tahapan perjalanan hidup).
B.
KARAKTERISTIK NARATIF
Terdapat beberapa ciri utama atau ciri khas riset
naratif, terlihat juga serangkaian ciri khas yang memperlihatkan
batasan-batasannya. Tidak semua proyek naratif mengandung unsur-unsur ini,
tetapi juga tidak mengesampingkan berbagai kemungkinan lain.
1. Para
peneliti naratif mengumpulkan cerita dari
individu (dan dokumen serta percakapan kelompok) tentang pengalaman individual
yang dituturkan. Maka dari itu mungkin terdapat ciri kolaboratif yang kuat dalam penelitian naratif ketika ceritanya
muncul melalui interaksi atau dialog antara peneliti dan para partisipan.
2. Cerita
naratif menuturkan pengalaman individual,
dan cerita itu mungkin saja memperlihatkan identitas
dari individu dan bagaimana mereka melihat diri mereka.
3. Cerita
naratif dikumpulkan melalui beragam
bentuk data, misalnya melalui wawancara yang mungkin menjadi bentuk utama
pengumpulan data, dan juga melalui pengamatan, dokumen, gambar, dan sumber data
kualitatif yang lain.
4. Cerita
naratif seringkali didengar dan kemudian disusun oleh peneliti menjadi suatu kronologi meskipun cerita tersebut
mungkin tidak diceritakan secara kronologis oleh partisipan.
5. Cerita
naratif dianalisis dalam beragam
cara. Suatu analisis dapat tentang apa yang dikatakan (secara tematis), sifat
dari penuturan ceritanya(struktural), atau kepada siapakah cerita tersebut
ditujukan (dialogis/permainan drama) (Riessman, 2008).
6. Cerita
naratif seringkali mengandung titik balik
(Denzin, 1989) atau ketegangan atau interupsi spesifik yang diperlihatkan
oleh penalti dalam penuturan cerita tersebut.
7. Cerita
naratif berlangsung di tempat atau
situasi yang pesifik. Konteks cerita menjadi penting bagi penuturan cerita
tersebut.
C.
TIPE/JENIS NARATIF
Studi naratif dapat dibagi menjadi dua, yaitu mempertimbangkan analisis data yang digunakan oleh peneliti dan mempertimbangkan tipe dari narasi.
Studi naratif dapat dibagi menjadi dua, yaitu mempertimbangkan analisis data yang digunakan oleh peneliti dan mempertimbangkan tipe dari narasi.
1. Mempertimbangkan
strategi analisis data yang digunkan oleh penelit
Terdapat
beberapa strategi analisi yang dapat digunakan. Chase (2005) mengemukakan
strategi analisis untuk menguraikan batasan pada narasi, narasi yang disusun
secara interaktif antara para peneliti dan partisipan, dan penafsiran yang
dikembangkan oleh beragam penutur. Riessman (2008) menyampaikan tiga jenis
pendekatan yang digunakan untuk menganalisis cerita naratif: (1) analisis tematik
yang penelitiannya mengidentifikasi tema yang “dituturkan” oleh seorang partisipan; (2) analisis
struktural yang pemaknaannya bergeser pada “penuturan” tersebut dan ceritanya
dapat dibentuk selama percakapan dalam bentuk komik, tragedi, setire, roman,
atau bentuk lain; (3) analisis dialogis/ permainan (drama) yang fokusnya
beralih apda bagaimana cerita tersebut dihasilkan (yiatu secara interaktif
antara peneliti dan partisipan) dan ditampilkan dalam permainan/drama (yaitu
yang bertujuan untuk menyampaikan pesan).
2. Mempertimbangkan
tipe dari narasi
Beragam
pendekatan telah dikembangkan, berikut adalah sebagaian pendektaan yang
populer.
a. Studi biogrfis adalah
bentuk studi naratif yang penelitinya menulis dan merekam pengalaman dari
kehidupan orang lain.
b.
Auto-etnografi
ditulis
dan direkam oleh individu yang menjadi subjek penelitian tersebut (Ellis, 2004;
Muncey, 2010 dalam Creswell). Muncey (2010) mendefinisikan auto-etnografi
sebagai ide dari beragam lapisan kesadaran, diri yang rentran, diri yang
koheren, kritik-diri dalam konteks sosial, dan potensi yang mengesankan. Satu
contoh auto-etnografi adalah disetertasi doktoral dari Neyman (2011) dimana ia
mengeksplorasi pengalaman mengajarnya dengan latar belakang problem utama di
sekolah negeri di Amerika dan Ukraina.
c.
Sejarah
Kehidupan menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh,
sementara itu cerita pengalaman pribadi adalah studi naratif tentang pengalaman
pribadi seseorang yang terjadi dalam satu atau beberapa episode, situasi
pribadi, atau cerita rakyat (Denzin, 1989 dalam Creswell)
d.
Sejarah
tutur atau sejarah
lisan adalah pengumpulan refleksi pribadi tentang peristiwa dan
sebab/efeknya terhadap satu atau beberapa individu (Plummer, 1983 dalam
Creswell). Studi naratif mungkin memiliki fokus kontekstual yang spesifik,
misalnya cerita yang dituturkan oleh para pengjar atau anak-anak di kelas
(Ellerenshaw & Creswell, 2002).
D.
PROSEDUR
DALAM PELAKSANAAN RISET NARATIF
Riessman (2008) menambahkan informasi yang berguna tentang proses pengumpulan data dan strategi analisis data.
Riessman (2008) menambahkan informasi yang berguna tentang proses pengumpulan data dan strategi analisis data.
1. Menentukan
problem atau pertanyaan riset sudah cocok untuk riset naratif.
2. Memilih
salah satu atau lebih individu yang memiliki cerita atau pengalaman hidup yang
ingin diceritakan, dan menghabiskan banyak waktu dengan mereka untuk
mengumpulkan cerita mereka melalui beragam jenis informasi. Para partisipan
dapat merekam cerita mereka dalam jurnal atau diary, atau peneliti dapat mengamati individu tersebut lalu
merekamnya dalam bentuk catatan lapangan.
3. Mempertimbangkan
bagaimana pengumpulan data dan perekamannya dapat dilakukan dengan beragam
cara.
4. Mengumpulkan
infromasi tentang konteks dari cerita ini. Para peneliti naratif menempatkan
cerita individual dalam pengalaman pribadi dan para partisipan (pekerjaan,
rumah tempat tinggal mereka), kebudayaan (ras atau etnis), dan konteks historis (waktu dan tempat
mereka).
5. Menganalisis
cerita dari para partisipan. Peneliti dapat mengambil peran aktif dan “menyusun
kembali” cerita tersebut kedalam kerangka yang bermakna. Restorying adalah proses reorganisasi cerita
menjadi beberapa jenis kerangka umum. Proses analisinya adalah peneliti mencari
tema atau kategori; peneliti menggunakan pendekatan linguistik.
6. Berkolaborasi
dengan para partisipan dengan cara aktif melibatkan mereka dalam riset tersebut
(Clandinin & Connelly, 2000)
Dalam
penelitian naratif, satu hal penting adalah perhatian terhadap hubungan antara
peneliti dan yang diteliti di mana kedua belah pihak akan belajar dan berubah
ketika mereka berinteraksi (Creswell & Miller, 2000). “Penelitian naratif
adalah cerita yang dijalani dan dituturkan”, Clandidin & Cornelly, 2000.
E. CONTOH PENELITIAN NARATIF
1.Judul
Penelitian : Analisis Naratif:
Kemiskinan Dalam Program Reality TV “Pemberian
Misterius” Di Stasiun SCTV
2. Peneliti : Lilik Kustanto
3. Latar
Belakang : Reality TV merupakan sebuah program telivisi yang menggambarkan
sebuah peristiwa realita atau peristiwa nyata. Namun, program tersebut
mengalami perkembangan dengan menampilkan kejadian yang nyata dan dibuat
sehingga program hibriditas. Salah satu program reality TV adalah “Pemberian Misterius” yang menarasikan tentang
memberi pertolongan dengan memberi hadiah kepada orang lain yang memenuhi
kriteria yang ditetapkan. Namun, narasi yang diceritakan tersebut sebenarnya
memiliki makna lain sebagai sebuah representasi kemiskinan yang secara implisit tidak terbaca oleh
penonton.
4. Tujuan
Penelitian : Penelitian ini untuk
melihat makna sebenarnya representasi kemiskinan dalam program reality TV “Pemberian Misterius”.
5. Metode
Penelitian : Metode yang digunakan
adalah analisis naratif, yaitu merupakan metode mengkaji narasi yang dapat
membantu untuk memahami, mengevaluasi dan memaknai struktur narasi. Sebuah
catatan bahwa analisis naratif berusaha membuat pernyataannya, yang terdiri
atas berbagai macam teks narasi yang terdiri atas berbagai macam teks narasi
yang dibuat untuk berbagai macam tujuan dan melayani berbagai macam fungsi yang
berbeda sehingga ada corpus (tubuh)
yang ditetapkn lebih dulu.
6. Hasil
dan Kesimpulan : Dapat terlihat secara
jelas bahwa tema dalam program reality TV
PM yang menunjukkan adanya jiwa penolong, kedermawanan, sifat-sifat baik
seseorang yang mau membantu orang lain yang membutuhkan dan lemah tidaklah lain
hanya makna permukaan saja yang dicitrakan. Namun secara mendalam orang-orang
lemah yang ditolong hanya bagian dari objek yang menggerakan sebuah program.
Kehadiran mereka menjadi bagian utama yang harus ada untuk memberikan sebuah
nilai rasa simpati dan penonton. Tanpa disadari untuk mendapatlan keuntungan
dan kepentingan sebuah industri melalui program reality TV.
F.
SUMBER
Kustanto,
L. 2015. Analisis Naratif: Kemiskinan Dalam Program Reality TV “Pemberian Misterius” di Stasiun SCTV. Jurnal Rekam, Vol. 11 No – Oktober 2015.
Creswell,
J.W. (2013). Qualitative Inquiry &
Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE
Publication: California.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar