JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat
beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.
PENJELASAN
FENOMENOLOGI
Studi Fenomenologi mendeskripsikan pemaknaan umum
dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan
konsep atau fenomena. Para fenemenolog memfokuskan untuk mendeskripsikan apa
yang sama/umum dari semua pertisipan ketika mereka mengalami fenomena
(misalnya, dukacita yang dialami secara universal).
Tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk
mereduksi pengalaman hidup pada fenomena menjadi deskripsi tentang esensi atau
intisari universal. Pengalaman manusia dapat berupa insomnia, kemarahan,
dukacita, kesendirian, atau pengalaman operasi (Moustakas dalam Creswell,
2013). Peneliti kemudain mengumpulkan data dari individu yang telah mengalami
fenomena tersebut, dan mengembangkan deskripsi gabungan tentang esensi dari
pengalaman tersebut bagi semua individu.
Di luar prosedur ini, fenomenologi memiliki komponen
filofosi yang kuat. Pada level yang lebih luas, Stewart dan Mickunas (1990)
menekankan empat perspektif filosofi dalam
fenomenologi:
1. Pengembalian pada tugas tradisional filsafat.
2. Filsafat
tanpa persangkaan.
3. Intensionalitas
kesadaran.
4. Penolakan
terhadap dikotomi objek-objek.
5. Seorang
individu yang menulis fenomenologi tidak lupa untuk memasukkan sebagian
pembahasan tentang fenomenologi di samping metode dalam bentuk penelitian ini.
B.
KARAKTERISTIK
FENOMENOLOGI
Terdapat
beberapa ciri yang secara khas terdapat dalam semua studi fenomenologis.
1. Penekanan
pada fenomena yang hendak dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau
ide tunggal, misalnya ide pendidikan tentang “pertumbuhan profesional”m konsep
psikologis tentang “dukacita” atau ide kesehatan tentang “hubungan
keperawatan”.
2. Eksplorasi
fenomena pada kelompok individu yang semuanya teah mengalami fenomena tersebut.
3. Pembahasan
filosofi tentang ide dasar yang dilibatkan dalam studi fenomenologi.
Fenomenologi terletak diantara penelitian kualitatif dan kuantitatif.
4. Pada
sebagain bentuk fenomenologi, peneliti mengurung dirinya di luar studi tersebut dengan
membahas pengalaman pribadinya dengan fenomena tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya
mengeluarkan peneliti dari studi tersebut, tetapi hal ini berfungsi untuk
mengidentifikasi pengalaman pribadi dengan fenomena tersebut dan sebagian untuk
mengeluarkan pengalaman itu, sehingga peneliti dapat berfokus pada pengalaman
dari para partisipan dalam studi tersebut.
5. Proses
pengumpulan data yang secara khas melibatkan wawancara terhadap individu yang
telah mengalami fenomena tersebut.
6. Analisis
data yang dapat mengikuti prosedur sistematis
yang bergerak dari satuan analisis yang sempit, (misalnya pernyataan
penting) menuju satuan yang lebih laus (misalnya satuan makna) kemudian menuju
deskripsi yang lebih detail yang merangkum dua unsur yiatu “apa” yang telah dan
bagaimana mengalami mereka telah mengalaminya (Moustakas dalam Creswell, 2013).
7. Fenomenologi
diakhiri dengan bagian deskriptif yang membahas esensi dari pengalaman yang
dialami individu tersebut dengan melibatkan “apa” yang telah mereka alami dan
“bagaimana” mereka mengalaminya.
C.
TIPE/JENIS
FENOMENOLOGI
Ada dua pendekatan dalam fenomenologi yang disoroti
dalam pembahasan ini, yaitu femenologi hermeneutik (Van Manen, 1990) dan
fenomenologi empiris, transdental, atau psikologis (Moustakas, 1994). Van Manen
(dalam Creswell., 2013) menulis buku pelajaran tentang fenemenologi hermeneutik
dan mendeskripsikan bahwa riset diarahkan pada pengalaman hidup (fenomenologi)
dan ditujukan untuk menafsirkan teks. Mereka menulis deskripsi tentan fenomena
tersebut, memelihara hubungan yang kuat
dengan topik penelitian dan menyeimbangkan bagian-bagian dari tulisan tersebut
terhadap keseluruhannya.
Fenemenologi
transdental atau psikologi dari Moustakas (1994) kurang berfokus pada
penafsiran dari peneliti, namun lebih berfokus pada deskripsi tentang
pengalaman dari partisipan tersebut. Moutakas berfokus pada konsep Husserls,
apoche (atau pengurungan), yang para penelitinya menyingkirkan pengalaman
mereka, sejauh mungkin, untuk memperoleh perspektif yang segar (baru)
seolah-olah untuk pertamakaliya.
D.
PROSEDUR
PELAKSANAAN RISET FENOMENOLOGI
Langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menentukan
apakah masalah risetnya paling baik dipelajari dengan menggunakan pendekatan
fenomenologi. Permasalahan yang cocok untuk riset ini adalah permasalahan untuk
memahami pengalaman yang sama atau bersama dari beberapa individu pada
fenomena.
2.
Fenomena yang menarik misalnya
kemarahan, profesionalisme, atau apa yang dimaksud dengan kurang berat badan.
Van Manen (1990) mengidentifikasikan fenomena seperti pengalaman dalam belajar,
mengendarai sepeda, atau permulaan sebagai ayah.
3. Peneliti
mengenali dan menentukan asumsi filosofi yang luas dari fenomenologi. Untuk
dapat mendeskripsikan secara penuh bagaimana para partisipan melihat fenomena
tersebut, para peneliti harus menyingkirkan sejauh mungkin, pengalaman mereka.
4. Data
dikumpulkan dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Sering kali
pengumpulan data dalam studi fenomenologi dilakukan melalui wawancara yang mendalam
dengan para partisipan.
5. Para
partisipan diberi dua pertanyaan umum (Moustaka 1994): Apakah yang anda alamai
terkait fenomena tersebut? Konteks atau situasi apakah yang biasanya memengaruhi
pengalaman anda dengan fenomena tersebut?. Pertanyaan lain tentu dapat
diberikan juga, kedua pertanyaan ini divberikan untuk mengumpulkan data yang
mengantar pada deskripsi tekstual dan
struktural tentang pengalaman, dan dapat memberikan yang lebih baik tentang
pengalaman yang sama dari para partisipan.
6. Langkah
analisis data fenomenologi secara umum sama untuk semua fenomenolog psikologis
yang membahas metode. Berdasarkan pada data dari pertanyaan riset yang pertama
dan kedua, analisis data memeriksa data tersebut (misalnya transkrip wawancara)
dan menyoroti berbagai pertanyaan penting, kalimat atau kutipan yang
menyediakan pemahaman tentang bagaimana pertisipan mengalami fenomena tersebut.
Lalu peneliti mengembangkan berbagai kelompok makna dari pernyataan penting ini
menjadi berbagai tema.
7. Pernyataan
penting dan tema ini kemudian digunakan untuk menulis deskripsi tentang apa
yang dialami oleh partisipan (deskripsi tekstural).
8. Dari
deskripsi tekstural dan tekstural tersebut, peneliti kemudian menulis deskripsi
gabungan yang mempresentasikan esensi dari fenomena, disebut struktur invarian
esensial.
E.
CONTOH
PENELITIAN FENOMENOLOGI
1. Judul
Penelitian : Studi Fenomenologis
Kebahagiaan Guru di Papua
2. Peneliti : Irianto dan Subandi
3. Latar
Belakang : Kebahagiaan merupakan
suatu konsep yang menggambarkan kondisi individu ketika mengarahkan perasaannya
pada hal yang positif dan memanfaatkan karakter positif yang dimiliki untuk
memaknai peristiwa-peristiwa yang dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Papua
merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berhubungan dengan wilayah
perbatasan luar negeri. Pendidikan diperlukan agar masyarakat di daerah perbatasan
dapat mengenyam pendidikan. Maka guru-guru diperlukan di daerah tersebut, terutama
di daerah pedalaman. Guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman, menunjukkan
bahwa mereka telah memehami makna identitas dan integritasnya dengan baik
sebagai seorang guru. Bagaimanakah kebahagiaan guru yang bertugas di pedalaman
Papua dan apa karakter positif dari kebahagian guru-guru dalam memenuhi
tuntutan kinerjanya secara profesional di pedalaman Papua?
4. Tujuan
Penelitian : Mengkaji dan menganalisis
secara mendalam nilai-nilai kebahagiaan serta mengeksplorasi karakter positif
yang diwujudkan dalam proses belajar mengajar di pedalaman Papua.
5. Metode
Penelitian : Pendekatan kualitatif
fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Partisipasi sebanyak tiga orang
dan proses pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan
dokumentasi.
6. Hasil
dan Kesimpulan : Hasil penelitian
menunjukkan bahwa guru mengerahkan perasaannya ke hal-hal yang positif berdasarkan
pengalaman selama mengabdi, yaitu: ketika siswa-siswa di pedalaman dapat
mengikuti pelajaran yang diberikan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi, dapat menunjukkan identitas guru, dan mendapatkan dukungan dari
masyarakat setempat maupun keluarga mereka.
F.
SUMBER
Irianto & Subandi. 2015. Studi Fenomenologis
Kebahagiaan Guru di Papua. Gadjah Mada
Journal Of Psychology, Volume 1, No 3.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative
Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition.
SAGE Publication: California.