Selasa, 22 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN FENOMENOLOGI DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN FENOMENOLOGI
Studi Fenomenologi mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Para fenemenolog memfokuskan untuk mendeskripsikan apa yang sama/umum dari semua pertisipan ketika mereka mengalami fenomena (misalnya, dukacita yang dialami secara universal).
Tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman hidup pada fenomena menjadi deskripsi tentang esensi atau intisari universal. Pengalaman manusia dapat berupa insomnia, kemarahan, dukacita, kesendirian, atau pengalaman operasi (Moustakas dalam Creswell, 2013). Peneliti kemudain mengumpulkan data dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut, dan mengembangkan deskripsi gabungan tentang esensi dari pengalaman tersebut bagi semua individu.
Di luar prosedur ini, fenomenologi memiliki komponen filofosi yang kuat. Pada level yang lebih luas, Stewart dan Mickunas (1990) menekankan empat perspektif filosofi dalam fenomenologi:
1.       Pengembalian pada tugas tradisional filsafat.
2.      Filsafat tanpa persangkaan.
3.      Intensionalitas kesadaran.
4.      Penolakan terhadap dikotomi objek-objek.
5.  Seorang individu yang menulis fenomenologi tidak lupa untuk memasukkan sebagian pembahasan tentang fenomenologi di samping metode dalam bentuk penelitian ini.

B.     KARAKTERISTIK FENOMENOLOGI
Terdapat beberapa ciri yang secara khas terdapat dalam semua studi fenomenologis.
1.      Penekanan pada fenomena yang hendak dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau ide tunggal, misalnya ide pendidikan tentang “pertumbuhan profesional”m konsep psikologis tentang “dukacita” atau ide kesehatan tentang “hubungan keperawatan”.
2.      Eksplorasi fenomena pada kelompok individu yang semuanya teah mengalami fenomena tersebut.
3.  Pembahasan filosofi tentang ide dasar yang dilibatkan dalam studi fenomenologi. Fenomenologi terletak diantara penelitian kualitatif dan kuantitatif.
4.    Pada sebagain bentuk fenomenologi, peneliti mengurung  dirinya di luar studi tersebut dengan membahas pengalaman pribadinya dengan fenomena tersebut. Hal ini tidak sepenuhnya mengeluarkan peneliti dari studi tersebut, tetapi hal ini berfungsi untuk mengidentifikasi pengalaman pribadi dengan fenomena tersebut dan sebagian untuk mengeluarkan pengalaman itu, sehingga peneliti dapat berfokus pada pengalaman dari para partisipan dalam studi tersebut.
5.      Proses pengumpulan data yang secara khas melibatkan wawancara terhadap individu yang telah mengalami fenomena tersebut.
6.      Analisis data yang dapat mengikuti prosedur sistematis  yang bergerak dari satuan analisis yang sempit, (misalnya pernyataan penting) menuju satuan yang lebih laus (misalnya satuan makna) kemudian menuju deskripsi yang lebih detail yang merangkum dua unsur yiatu “apa” yang telah dan bagaimana mengalami mereka telah mengalaminya (Moustakas dalam Creswell, 2013).
7.      Fenomenologi diakhiri dengan bagian deskriptif yang membahas esensi dari pengalaman yang dialami individu tersebut dengan melibatkan “apa” yang telah mereka alami dan “bagaimana” mereka mengalaminya.
 
C.    TIPE/JENIS FENOMENOLOGI
Ada dua pendekatan dalam fenomenologi yang disoroti dalam pembahasan ini, yaitu femenologi hermeneutik (Van Manen, 1990) dan fenomenologi empiris, transdental, atau psikologis (Moustakas, 1994). Van Manen (dalam Creswell., 2013) menulis buku pelajaran tentang fenemenologi hermeneutik dan mendeskripsikan bahwa riset diarahkan pada pengalaman hidup (fenomenologi) dan ditujukan untuk menafsirkan teks. Mereka menulis deskripsi tentan fenomena tersebut, memelihara  hubungan yang kuat dengan topik penelitian dan menyeimbangkan bagian-bagian dari tulisan tersebut terhadap keseluruhannya.
 Fenemenologi transdental atau psikologi dari Moustakas (1994) kurang berfokus pada penafsiran dari peneliti, namun lebih berfokus pada deskripsi tentang pengalaman dari partisipan tersebut. Moutakas berfokus pada konsep Husserls, apoche (atau pengurungan), yang para penelitinya menyingkirkan pengalaman mereka, sejauh mungkin, untuk memperoleh perspektif yang segar (baru) seolah-olah untuk pertamakaliya.

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET FENOMENOLOGI
Langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan apakah masalah risetnya paling baik dipelajari dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Permasalahan yang cocok untuk riset ini adalah permasalahan untuk memahami pengalaman yang sama atau bersama dari beberapa individu pada fenomena.
2.      Fenomena yang menarik misalnya kemarahan, profesionalisme, atau apa yang dimaksud dengan kurang berat badan. Van Manen (1990) mengidentifikasikan fenomena seperti pengalaman dalam belajar, mengendarai sepeda, atau permulaan sebagai ayah.
3.      Peneliti mengenali dan menentukan asumsi filosofi yang luas dari fenomenologi. Untuk dapat mendeskripsikan secara penuh bagaimana para partisipan melihat fenomena tersebut, para peneliti harus menyingkirkan sejauh mungkin, pengalaman mereka.
4.      Data dikumpulkan dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Sering kali pengumpulan data dalam studi fenomenologi dilakukan melalui wawancara yang mendalam dengan para partisipan.
5.      Para partisipan diberi dua pertanyaan umum (Moustaka 1994): Apakah yang anda alamai terkait fenomena tersebut? Konteks atau situasi apakah yang biasanya memengaruhi pengalaman anda dengan fenomena tersebut?. Pertanyaan lain tentu dapat diberikan juga, kedua pertanyaan ini divberikan untuk mengumpulkan data yang mengantar pada deskripsi  tekstual dan struktural tentang pengalaman, dan dapat memberikan yang lebih baik tentang pengalaman yang sama dari para partisipan.
6.      Langkah analisis data fenomenologi secara umum sama untuk semua fenomenolog psikologis yang membahas metode. Berdasarkan pada data dari pertanyaan riset yang pertama dan kedua, analisis data memeriksa data tersebut (misalnya transkrip wawancara) dan menyoroti berbagai pertanyaan penting, kalimat atau kutipan yang menyediakan pemahaman tentang bagaimana pertisipan mengalami fenomena tersebut. Lalu peneliti mengembangkan berbagai kelompok makna dari pernyataan penting ini menjadi berbagai tema.
7.      Pernyataan penting dan tema ini kemudian digunakan untuk menulis deskripsi tentang apa yang dialami oleh partisipan (deskripsi tekstural).
8.      Dari deskripsi tekstural dan tekstural tersebut, peneliti kemudian menulis deskripsi gabungan yang mempresentasikan esensi dari fenomena, disebut struktur invarian esensial.

E.     CONTOH PENELITIAN FENOMENOLOGI
1.      Judul Penelitian     : Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua
2.      Peneliti                  : Irianto dan Subandi
3.      Latar Belakang      : Kebahagiaan merupakan suatu konsep yang menggambarkan kondisi individu ketika mengarahkan perasaannya pada hal yang positif dan memanfaatkan karakter positif yang dimiliki untuk memaknai peristiwa-peristiwa yang dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berhubungan dengan wilayah perbatasan luar negeri. Pendidikan diperlukan agar masyarakat di daerah perbatasan dapat mengenyam pendidikan. Maka guru-guru diperlukan di daerah tersebut, terutama di daerah pedalaman. Guru yang telah mengabdi di wilayah pedalaman, menunjukkan bahwa mereka telah memehami makna identitas dan integritasnya dengan baik sebagai seorang guru. Bagaimanakah kebahagiaan guru yang bertugas di pedalaman Papua dan apa karakter positif dari kebahagian guru-guru dalam memenuhi tuntutan kinerjanya secara profesional di pedalaman Papua?
4.      Tujuan Penelitian  : Mengkaji dan menganalisis secara mendalam nilai-nilai kebahagiaan serta mengeksplorasi karakter positif yang diwujudkan dalam proses belajar mengajar di pedalaman Papua.
5.      Metode Penelitian : Pendekatan kualitatif fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Partisipasi sebanyak tiga orang dan proses pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.
6.      Hasil dan Kesimpulan       : Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru mengerahkan perasaannya ke hal-hal yang positif berdasarkan pengalaman selama mengabdi, yaitu: ketika siswa-siswa di pedalaman dapat mengikuti pelajaran yang diberikan dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dapat menunjukkan identitas guru, dan mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat maupun keluarga mereka.

F.     SUMBER
Irianto & Subandi. 2015. Studi Fenomenologis Kebahagiaan Guru di Papua. Gadjah Mada Journal Of Psychology, Volume 1, No 3.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Selasa, 15 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN STUDI KASUS DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN STUDI KASUS
Riset studi kasus mencakup studi tentang suatu kasus dalam kehidupan nyata, dalam konteks atau setting kontemporer (Yin, 2009). Penelitian studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitiannya mengeksplorasi kehidupan-nyata, sistem terbatas kontemporer (kasus) atau berbagai sistem terbatas (berbagai kasus), melalui pengumpulan data yang detail dna mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi atau sumber informasi majemuk (misal pengamatan, wawancara, bahan audiovisual, dan dokumen dan berbagai laporan), dan melaporkan deskripsi kasus dan teman kasus. Satuan analisis dalam studi kasus bisa berupa kasus majemuk (studi muti-situs) atau kasus tunggal (studi dalam-situs).

B.     KARAKTERISTIK STUDI KASUS
Tinjauan singkat terhadap berbagai studi kasus kualitatif yang dilaporkan dalam berbagai literatur menghasilkan berbagai ciri khas:
1.      Riset studi kasus dimulai dengan mengindentifikasi satu kasus yang spesifik. Kasus ini dapat berupa entitas yang konkret, misalnya individu, kelompok kecil, organisasi atau kemitraan.
2.      Tujuan dari pelaksanaan studi kasus tersebut juga penting. Studi kasus kualitatif dapat disusun untuk mengilustrasikan kasus yang unik, kasus yang memiliki kepentingan yang tidak biasa dalam dirinya dan perlu dideskripsikan atau diperinci. Kasus ini disebut kasus intrinsik (Stake dalam Creswell, 2013). Jika tujuan dari studi kasus adalah untuk memahami isu, problem, atau keprihatinan yang spesifik (misalnya kehamilan remaja) dan kasus atau beberapa kasus diseleksi untuk dapat memahami permasalahan tesebut dengan baik. Kasus ini disebut kasus instrumental (Stake dalam Creswell, 2013).
3.      Ciri utama dari studi kasus kualitatif yang baik adalah studi kasus itu memperlihatkan pemahaman mendalam tentang kasus tersebut. Peneliti dapat mengumpulkan beragam bentuk data kualitatif, mulai dari wawancara, pengamatan, dokumen hingga bahan audiovisual.
4.      Pemilihan pendekatan untuk analisis data dalam studi kasus akan berbeda-beda. Sebagian studi kasus melibatkan analisis terhadap unit-unit dalam kasus tersebut (misalnya sekolah, distrik sekolah), sementara itu bagian lain melaporkan tentang keselurhan kasus (misalnya distrik sekolah).
5.      Agar analisisnya dapat dipahami dengan baik, riset studi kasus yang baik juga melibatkan deskripsi tentang kasus tersebut. Deskripsi ini berlaku untuk studi kasus intrinsik maupun instrumental. Di samping itu, peneliti dapat mengidentifikasi tema atau isu/masalah atau situasi spesifik yang hendak dipelajari dalam masing-masing kasus.
6.      Di samping itu tema atau masalah itu dapat diorganisasikan menjadi kronologi oleh peneliti, menganalisis keseluruhan kasus untuk mengetahui berbagai persamaan dan perbedaan diantara kasus tersebut, atau menyajikan dalam suatu model teoritis.
7.      Studi kasus sering diakhiri dengan kesimpulan yang dibentuk oleh peneliti tentang makna keseluruhan yang diperoleh dari kasus atau kasus tersebut.
 
C.    TIPE/JENIS STUDI KASUS
Tipe studi kasus dibedakan berdasarkan ukuran batasan dari studi kasus tersebut, misal apakah studi kasus tersebut melibatkan satu individu, atau beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, atau suatu aktivitas. Studi kasus juga dapat dibedakan dalam hal tujuan dari analisis kasusnya. Terdapat tiga variasi dalam ha tujuan, yaitu studi kasus instrumental tunggal, studi kasus kolektif atau majemuk, dan studi kasus intrinsik.
1.      Studi Kasus Intrumental Tunggal
Dalam studi kasus instrumental tunggal (Stake dalam Creswell 2013), peneliti memfokuskan pada isu atau persoalan, kemudian memilih satu kasus terbatas untuk mengilustrasikan persoalan ini.
2.      Studi Kasus Kolektif atau Majemuk
Dalam studi kasus kolektif atau majemuk, satu isu atau persoalan juga dipilih, tetapi peneliti memilih beragam studi kasus untuk mengilustrasikan isu atau persoalan tersebut. Peneliti juga mempelajari satu program dari beberapa tempat riset atau beragam program di satu tempat tertentu. Sering kali peneliti memilih kasus majemuk untuk memperlihatkan beragam perspektif tentang isu tersebut.
3.      Studi Kasus Intrinsik
Studi kasus intrinsik adalh studi kasus yang fokusnya adalah pada kasus itu sendiri (misalnya mengevaluasi program) karana kasus tersebut menghadirkan situasi yang tidak biasa atau unik

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET STUDI KASUS
Pembahasan ini akan mengandalkan pendekatan ari Stakes (1995) dan Yin (2009).
1.      Menentukan terlebih dahulu apakah pendekatan studi kasus sudah tepat untuk mempelajari permasalahan risetnya. Studi kasus tepat digunakan ketika peneliti memiliki kasus berbatas yang dapat diidentifikasi dengan jelas atau peneliti ingin menyediakan pemahaman mendalam tentang kasus atau perbandingan dari beberapa kasu.
2.      Mengidentifikasi kasus atau beberapa kasus. Kasus mungkin melibatkan satu individu, beberapa individu, satu kelompok, beberapa kelompok, suatu peristiwa atau seseuatu aktivitas. Dalam memilih kasus mana yang hendak dipelajari, tersedia banyak kemungkinan bagi sampling purposeful.
3.      Pengumpulan data dalam riset studi kasus biasanya meluas, mengambil beragam sumber informasi, misalnya pengamatan, wawancara, dokumen, dan bahan audiovisual.
4.      Tipe analisis data dapat berupa analisis holistik dare keseluruhan kasus atau analisis melekat dari salah satu aspek dari kasus tersebut (Yin dalam Creswell, 2013).
5.      Pada tahap penafsiran akhir, peneliti melaporkan makna dari kasus tersebut, apakah kasus tersebut datang dari pembelajaran tentang persoalan dari kasus tersebut (kasus instrumental) atau pembelajaran tentang situasi yang tidak biasa (kasus intrinsik).

E.     CONTOH PENELITIAN STUDI KASUS
1.      Judul Penelitian     : Studi Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling
2.      Peneliti                  : Lisa Rahmi Ananda dan Ika Febrian Kristiana
3.      Latar Belakang      : Remaja pada umumnya membutuhkan interaksi mutual dengan teman sebaya. Semakin banyak interaksi yang dilakukan, semakin terbentuk pula kematangan sosial pada diri remaja. Kematangan sosial dapat dibentuk melalui pendidikan. Terdapat tiga jalur pendidikan di Indoneisa adalah pendidikan infromal seperti homeschooling. Homeschooling merupakan salah satu model belajar bagi anak dan merupakan pendidikan pilihan yang diselenggarakan oleh orang tua.
4.    Tujuan Penelitian  : Bertujuan untuk menggambarkan kematangan sosial pada remaja yang sedang menjalani homeschooling.
5.      Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan studi dokumen. Partisipan penelitian berjumlah 1 roang remaja yang mengikuti homeschooling dan 3 informan yaitu orangtua, guru sewaktu SD, dan teman yang bersedia menjadi partisipan penelitian.
6.    Hasil dan Kesimpulan       : Berdasarkan hasil penelitian kematangan sosial pada partisipan tergambar kan dari konsep diri yang positif, self-direction yang bagus, kemandirian dalam belajar saat itu. Dalam bersosialisasi partisipan cukup terampil berinteraksi dengan orang-ornag lintas usia atau yang tidak sebaya. Sedangkan dalam berinteraksi dengan teman sebaya, partisipan mengalami sedikit kendala karena memiliki perbedaan jadwal dalam pembelajaran.

F.     SUMBER
Ananda, L. R. & Kristiana, I.F. 2017. Studi Kasus: Kematangan Sosial Pada Siswa Homeschooling. Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1).
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.


Selasa, 08 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN ETNOGRAFI DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN ETNOGRAFI
Etnografi berfokus pada kelompok yang memiliki kebudayaan yang sama, mungkin saja kelompok yang kecil, misalnya sejumlah pengajar dan sekelompok pekerja sosial, tetapi biasanya besar, melibatkan banyak orang yang berinteraksi, misalnya para pengajar di satu sekolah, kelompok kerja sosial komunitas.
Etnografi merupakan suatu desain kualitatif yang penelitinya mendeskripsikan dan menafsirkan pola yang sama dari nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa dari suatu kelompok berkebuyaan-sama (Harris, 1968). Agar (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa etnografi merpakan suatu cara untuk mempelajari sebuah kelompok berkebuyaan-sama sekaligus produk akhir terltulis dari riset tersebut. Para etnografer mempelajari makna dari perilaku, bahasa, dan interaksi di kalangan para anggota kelompok berkebudayaan-sama tersebut.

B.     KARAKTERISTIK ETNOGRAFI
Terdapat beberapa ciri utama dari etnografi yang baik, yaitu:
1.      Etnografi berfokus pada pengembangan deskripsi yang kompleks dan lengkap tentang kebudayaan dari kelompok, yaitu kelompok berkebudayaan sama, mungkin saja membahas keseluruhan kelompok atau bagian dari kelompok.
2.      Etnografi bukanlah studi tentang kebudayaan, tetapi studi tentang perilaku sosial dari kelompok masyarakat yang dapat diisentifikasi (Wolcott, 2008).
3.      Dalam etnografi, peneliti mencari berbagai pola (juga dideskripsikan sebagai ritual, perilaku sosial adat, atau kebiasaan) dari aktivitas mental kelompok tersebut, misalnya ide dan keyakinan yang diekspresikan melalui bahasa , atau aktivitas material, misalnya bagaimana mereka berperilaku dalam kelompok yang diekspresikan melalui tindakan mereka yang diamati oleh peneliti (Fetterman, 2010).
4.      Hal ini berarti bahwa kelompok berkebudayaan-sama tersebt telah lengkap dan berinteraksi dalam waktu yang cukup lama hingga dapat membangun pola kerja yang jelas.
5.      Di samping, itu teori memainkan peran penting dalam memfokuskan perhatian peneliti ketika melaksanakan etnografi
6.      Untuk dapat menggunakan teori tersebut untuk menemukan pola dari kelompok berkebudayaan-sama, peneliti harus terlibat dalam kerja lapangan yang lama, mengumpulkan data terutama melalui wawancara, pengamatan, simbol, artefak, dan beragam sumber data yang lain (Fetterman dalam Creswell 2013).
7.      Biasanya dalam etnografi yang bagus, tidak banyak diketahui tentang bagaimana kelompok tersebut berfungsi, misalnya bagaimana geng beroperasi, dan pembaca mengembangkan pemahaman baru tentang kelompok tersebut.
8.      Analisis ini menghadilkan pemahaman tentan bagaimana kelompok berkebudayaan-sama berjalan, yaitu bagaimana kelompok tersebut berfungsi dan bagaiamana cara hidup dari kelompok tersebut.
 
C.    TIPE/JENIS ETNOGRAFI
Ada banyak bentuk etnografi, misalnya etnografi pengakuan, riwayat hidup, auto-etnografi, etnografis-feminis, novel etnografis dan etnografi visual yang terdapat dalam fotografi dan video, dan media elektronik. Dua bentuk etnografi yang populer akan ditekankan di sini, yaitu etnografi realis dan etnografi kritis.
1.      Etnografi Realis
Etnografis realis adalah pendekatan tradisional yang digunakan oleh para antropolg kebudayaan. Van Maaen (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa etnografi realis mereflesikan suatu pendirian tertentu yang diambil oleh peneliti  terhadap para individu yang sedang diteliti. Data yang dilaporkan adalah data objektif dalam satu gaya yang terukur yang tidak terkontaminasi oleh bias pribadi, tujuan politik dan pertimbangan politik.
2.      Etnografi Kritis
Pendekatan etnografi kritis merupakan respon terhadap masyarakat sekarang, dimana sistem kekuasaan, prestise, privilese (hak istimewa), dan otoritas digunakan untuk memarginalkan individu yang berasal kelas, ras, dan gender yang berbeda. Etnografi kritis adalah satu jenis riset etnografis dimana para penulisnya memperjuangkan emanisipasi bagi kelompok  masyarakat yang terpinggirkan (Thomas dalam Creswell, 2013). Para peneliti etnografi kritis biasanya adalah individu yang  berpikiran politis yang berusaha, melalui riset untuk menentang ketidaksetaraan dan dominasi (Carspecken & Apple, dalam Creswell, 2013). Komponan utama dari etnografis kritis diantaranya orientasi bermuatan nilai, memberdayakan masyarakat dengan memberi mereka otoritas, menentang status que, dan mengemukakan persoalan tengang kekuasan dan kontrol.

D.    PROSEDUR PELAKSANAAN RISET ETNOGRAFI
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan etnografi (realis dan kritis) adalah sebagai berikut:
1.      Menentukan apakah etnografi merupakan desain yang paling tepat digunakan untuk memperlajari permasalahan riset yang dimaksud. Etnografi sangat tepat digunakan jika kebutuhannya adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kelompok kebudayaan berjalan (misalnya bahasa, keyakinan, kebiasaan).
2.      Mengidentifikasi dan menentukan suatu kelompok berkebudayaan-sama yang hendak dipelajari. Biasanya kelompok yang anggotanya telah hidup bersama dalam waktu yang lama, sehingga bahasa, pola prilaku, dan sikap telah terbentuk menjadi pola yang dapat dilihat.
3.      Menyeleksi berbagai tema, permasalahan atau teori kebudayaan yang hendak dipelajari dari kelompok tersebut. Tema, permasalahan atau teori ini menyediakan suatu kerangka pengarah bagi studi tentang kelompok kebudayaan-sama tersebut.
4.      Untuk mempelajari konsep kebudayaan, harus ditentukan tipe etnografi mana  yang hendak digunakan. Barangkali bagaimana kelompok tersebut berjalan perlu dideskripsikan, atau etnografis kritis dapat mengekspos permasalahan seperti kekuasaan, hegemoni, dan memberikan advokasi bagi kelompok tertentu.
5.      Mnegumpulkan informasi dalam konteks atau lingkungan dimana kelompok tersebut hidup.
6.      Dari banyak sumber data yang telah dikumpulkan, sang etnografer menganalisis data tersebut untuk menyusun suatu deskripsi tentang kelompok kebudayaan-sama tersebut, tema yang muncul dari kelompok tersebut, dan penafsiran keseluruhan (Wolcot dalam Creswell 2013).
7.      Menyusun rangkaian aturan atau teori tentang bagaimana kelompok berkebudayaan-sama tersebut berjalan sebagai hasil akhir dari analisis ini. Hasil akhirnya adalah potret kebudayaan yang holistik dari kelompok tersebut yang mencakup pandangan dari para partisipan (emis) dan juga pandangan dari peneliti (etis). Peneliti juga dapat memberikan advokasi bagi keperluan kelompok tersebut atau menyarankan perubahan dalam masyarakat.

E.     CONTOH PENELITIAN ETNOGRAFI
1.      Judul Penelitian     : Studi Etnografi Perilaku Sosial di Pulau Sebesi Lampung
2.      Peneliti                  : Siti Kurniasih, S.A.B., M.Pd dan Prisma Tejapermana, S.Sn., M.Pd
3.   Latar Belakang      : Keberagaman masyarakat di Indonesia belum mampu menjadikan hidup bersosialisasi dengan masyarakat lainnya. Faktanya, masih ada terjadi perkelahian di antara pemuda Desa Simpang Parit dengan Desa Muara Ponco hanya karena satu kelompok tidak terima ditegur kelompok lain saat merokok ketika masa puasa. Sementara itu, di Pulau Sebesi adalah kepulauan yang sangat terkenal kesuburan tanahnya dan sebagai tujuan pariwisata. Hasil menunjukkan bahwa terbentuknya perilaku masyarakat  yang terlihat lewat perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, antara lain gotong royong, aktif kerja bakti dan saling berbagi. Perilaku sosial ini juga terlihat pada anak usia dini. Saat wisatawan datang berkunjung ke daerah mereka, dengan senang hati mereka memberikan senyuman dan menyapa tanpa takut akan kedatangan orang yang tidak dikenal. Anak-anak di Pulau Sebesi diketahui mudah membaur dengan teman-teman yang lain tanpa membedakan faktor apapun. Mereka juga memiliki rasa kepedulian yang tinggi, terlihat dari kegiatan mereka yang ikut membantu orangtua bekerja tanpa paksaan dari orangtua mereka.
4.   Tujuan Penelitian  : Mendeskripsikan perilaku sosial anak usia dini di Pulau Sebesi Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
5.     Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah metode penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian ini menggunakan model spradley yang dikenal dengan proses penelitian siklikal. Pada model penelitian ini, kegiatan pengumpulan data dan analisis data dapat berjalan bersama dalam artian analisis data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data yang dilakukan peneliti selama di lapangan.
6.      Hasil dan Kesimpulan       : Hasil penelitian  menggambarkan bahwa terdapat  kegiatan atau tradisi yang dilakukan masyarakat di Pulai Sebesi dapat mengembangkan perilaku sosial anak usia dini sehingga diterima di lingkungan sosialnya. Beberapa kegiatan atau tradisi yang menunjukkan bahwa kegiatan bersama-sama sering dilakukan di Pulau Sebesi yaitu bacakan, ngelop, sakai sambayan, pejunjongan, dan kegiatan yang dilakukan bersama-sama di PAUD. Pada kehidupan sehari-hari, anak-anak di Pulau Sebesi Lampung Selatan, mau berbaur dan bergabung dalam kegiatan atau bermain bersama tanda membedakan suku, agama, ras, warna kulit dan usia anak. Mereka menghargai orang lain, berbagai dengan orang lain serta mengenal tata krama dan sopan satun sesuai dengan nilai sosial budaya di Pulau Sebesi.
7.      Saran Peneliti        : Peneliti juga memberikan beberapa saran, salah satunya adalah bagi peneliti lain diharapkan adanya penelitian lanjutan tentang deskripsi tahapan perilaku yang terlihat pada anak usia dini. Bagi pendidik dan pemerhati anak usia dini.

F.     SUMBER
Kurniasih, A. & Tejapermana, P. 2018. Studi Etnografi Perilaku Sosial Anak Di Pulau Sebesi Lampung. Jurnal Caksana-Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 2.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.
                                                                                                                                          

Selasa, 01 Oktober 2019

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN NARATIF DAN CONTOHNYA


JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounded Theory, dan Etnografi.
A.    PENJELASAN NARATIF
Czarniawska dalam (Creswell, 1994)  mendefinisikan riset naratif sebagai tipe desain kualitatif yang spesifik yang “narasinya dipahami sebagaiteks yang dituturkan atau dituliskan dengan menceritakan tentang peristiwa/aksi, yang berhubungan secara kronologis”. Prosedur dalam pelaksanaan riset ini  dimulai dengan memfokuskan pada pengkajian terhadap satu atau dua individu, pengumpulan data melalui cerita mereka, pelaporan pengalaman individual, dan penyusunan kronologis atas makna dari pengalaman tersebut (atau menggunakan tahapan perjalanan hidup).

B.     KARAKTERISTIK NARATIF
Terdapat beberapa ciri utama atau ciri khas riset naratif, terlihat juga serangkaian ciri khas yang memperlihatkan batasan-batasannya. Tidak semua proyek naratif mengandung unsur-unsur ini, tetapi juga tidak mengesampingkan berbagai kemungkinan lain.
1.      Para peneliti naratif mengumpulkan cerita dari individu (dan dokumen serta percakapan kelompok) tentang pengalaman individual yang dituturkan. Maka dari itu mungkin terdapat ciri kolaboratif yang kuat dalam penelitian naratif ketika ceritanya muncul melalui interaksi atau dialog antara peneliti dan para partisipan.
2.      Cerita naratif menuturkan pengalaman individual, dan cerita itu mungkin saja memperlihatkan identitas dari individu dan bagaimana mereka melihat diri mereka.
3.      Cerita naratif dikumpulkan melalui beragam bentuk data, misalnya melalui wawancara yang mungkin menjadi bentuk utama pengumpulan data, dan juga melalui pengamatan, dokumen, gambar, dan sumber data kualitatif yang lain.
4.      Cerita naratif seringkali didengar dan kemudian disusun oleh peneliti menjadi suatu kronologi meskipun cerita tersebut mungkin tidak diceritakan secara kronologis oleh partisipan.
5.      Cerita naratif dianalisis dalam beragam cara. Suatu analisis dapat tentang apa yang dikatakan (secara tematis), sifat dari penuturan ceritanya(struktural), atau kepada siapakah cerita tersebut ditujukan (dialogis/permainan drama) (Riessman, 2008).
6.      Cerita naratif seringkali mengandung titik balik (Denzin, 1989) atau ketegangan atau interupsi spesifik yang diperlihatkan oleh penalti dalam penuturan cerita tersebut.
7.      Cerita naratif berlangsung di tempat atau situasi yang pesifik. Konteks cerita menjadi penting bagi penuturan cerita tersebut.

C.    TIPE/JENIS NARATIF
Studi naratif dapat dibagi menjadi dua, yaitu mempertimbangkan analisis data yang digunakan oleh peneliti dan mempertimbangkan tipe dari narasi.
1.      Mempertimbangkan strategi analisis data yang digunkan oleh penelit
Terdapat beberapa strategi analisi yang dapat digunakan. Chase (2005) mengemukakan strategi analisis untuk menguraikan batasan pada narasi, narasi yang disusun secara interaktif antara para peneliti dan partisipan, dan penafsiran yang dikembangkan oleh beragam penutur. Riessman (2008) menyampaikan tiga jenis pendekatan yang digunakan untuk menganalisis cerita naratif: (1) analisis tematik yang penelitiannya mengidentifikasi tema yang “dituturkan”  oleh seorang partisipan; (2) analisis struktural yang pemaknaannya bergeser pada “penuturan” tersebut dan ceritanya dapat dibentuk selama percakapan dalam bentuk komik, tragedi, setire, roman, atau bentuk lain; (3) analisis dialogis/ permainan (drama) yang fokusnya beralih apda bagaimana cerita tersebut dihasilkan (yiatu secara interaktif antara peneliti dan partisipan) dan ditampilkan dalam permainan/drama (yaitu yang bertujuan untuk menyampaikan pesan).

2.      Mempertimbangkan tipe dari narasi
Beragam pendekatan telah dikembangkan, berikut adalah sebagaian pendektaan yang populer.
a.       Studi biogrfis adalah bentuk studi naratif yang penelitinya menulis dan merekam pengalaman dari kehidupan orang lain.
b.                  Auto-etnografi ditulis dan direkam oleh individu yang menjadi subjek penelitian tersebut (Ellis, 2004; Muncey, 2010 dalam Creswell). Muncey (2010) mendefinisikan auto-etnografi sebagai ide dari beragam lapisan kesadaran, diri yang rentran, diri yang koheren, kritik-diri dalam konteks sosial, dan potensi yang mengesankan. Satu contoh auto-etnografi adalah disetertasi doktoral dari Neyman (2011) dimana ia mengeksplorasi pengalaman mengajarnya dengan latar belakang problem utama di sekolah negeri di Amerika dan Ukraina.
c.                   Sejarah Kehidupan menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh, sementara itu cerita pengalaman pribadi adalah studi naratif tentang pengalaman pribadi seseorang yang terjadi dalam satu atau beberapa episode, situasi pribadi, atau cerita rakyat (Denzin, 1989 dalam Creswell)
d.                  Sejarah tutur atau sejarah lisan adalah pengumpulan refleksi pribadi tentang peristiwa dan sebab/efeknya terhadap satu atau beberapa individu (Plummer, 1983 dalam Creswell). Studi naratif mungkin memiliki fokus kontekstual yang spesifik, misalnya cerita yang dituturkan oleh para pengjar atau anak-anak di kelas (Ellerenshaw & Creswell, 2002).

D.    PROSEDUR DALAM PELAKSANAAN RISET NARATIF
Riessman (2008) menambahkan informasi yang berguna tentang proses pengumpulan data dan strategi analisis data.
1.      Menentukan problem atau pertanyaan riset sudah cocok untuk riset naratif.
2.      Memilih salah satu atau lebih individu yang memiliki cerita atau pengalaman hidup yang ingin diceritakan, dan menghabiskan banyak waktu dengan mereka untuk mengumpulkan cerita mereka melalui beragam jenis informasi. Para partisipan dapat merekam cerita mereka dalam jurnal atau diary, atau peneliti dapat mengamati individu tersebut lalu merekamnya dalam bentuk catatan lapangan.
3.      Mempertimbangkan bagaimana pengumpulan data dan perekamannya dapat dilakukan dengan beragam cara.
4.      Mengumpulkan infromasi tentang konteks dari cerita ini. Para peneliti naratif menempatkan cerita individual dalam pengalaman pribadi dan para partisipan (pekerjaan, rumah tempat tinggal mereka), kebudayaan (ras atau etnis), dan konteks historis (waktu dan tempat mereka).
5.      Menganalisis cerita dari para partisipan. Peneliti dapat mengambil peran aktif dan “menyusun kembali” cerita tersebut kedalam kerangka yang bermakna. Restorying adalah proses reorganisasi cerita menjadi beberapa jenis kerangka umum. Proses analisinya adalah peneliti mencari tema atau kategori; peneliti menggunakan pendekatan linguistik.
6.      Berkolaborasi dengan para partisipan dengan cara aktif melibatkan mereka dalam riset tersebut (Clandinin & Connelly, 2000)
Dalam penelitian naratif, satu hal penting adalah perhatian terhadap hubungan antara peneliti dan yang diteliti di mana kedua belah pihak akan belajar dan berubah ketika mereka berinteraksi (Creswell & Miller, 2000). “Penelitian naratif adalah cerita yang dijalani dan dituturkan”, Clandidin & Cornelly, 2000.

E. CONTOH PENELITIAN NARATIF
1.Judul Penelitian : Analisis Naratif: Kemiskinan Dalam Program Reality TV “Pemberian Misterius” Di Stasiun SCTV
2.    Peneliti                    : Lilik Kustanto
3.  Latar Belakang   : Reality TV merupakan sebuah program telivisi yang menggambarkan sebuah peristiwa realita atau peristiwa nyata. Namun, program tersebut mengalami perkembangan dengan menampilkan kejadian yang nyata dan dibuat sehingga program hibriditas. Salah satu program reality TV adalah “Pemberian Misterius” yang menarasikan tentang memberi pertolongan dengan memberi hadiah kepada orang lain yang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Namun, narasi yang diceritakan tersebut sebenarnya memiliki makna lain sebagai sebuah representasi kemiskinan  yang secara implisit tidak terbaca oleh penonton.
4.  Tujuan Penelitian  : Penelitian ini untuk melihat makna sebenarnya representasi kemiskinan dalam program reality TV “Pemberian Misterius”.
5. Metode Penelitian : Metode yang digunakan adalah analisis naratif, yaitu merupakan metode mengkaji narasi yang dapat membantu untuk memahami, mengevaluasi dan memaknai struktur narasi. Sebuah catatan bahwa analisis naratif berusaha membuat pernyataannya, yang terdiri atas berbagai macam teks narasi yang terdiri atas berbagai macam teks narasi yang dibuat untuk berbagai macam tujuan dan melayani berbagai macam fungsi yang berbeda sehingga ada corpus (tubuh) yang ditetapkn lebih dulu.
6.    Hasil dan Kesimpulan : Dapat terlihat secara jelas bahwa tema dalam program reality TV PM yang menunjukkan adanya jiwa penolong, kedermawanan, sifat-sifat baik seseorang yang mau membantu orang lain yang membutuhkan dan lemah tidaklah lain hanya makna permukaan saja yang dicitrakan. Namun secara mendalam orang-orang lemah yang ditolong hanya bagian dari objek yang menggerakan sebuah program. Kehadiran mereka menjadi bagian utama yang harus ada untuk memberikan sebuah nilai rasa simpati dan penonton. Tanpa disadari untuk mendapatlan keuntungan dan kepentingan sebuah industri melalui program reality TV.

F.    SUMBER
              Kustanto, L. 2015. Analisis Naratif: Kemiskinan Dalam Program Reality TV “Pemberian Misterius” di Stasiun SCTV. Jurnal Rekam, Vol. 11 No – Oktober 2015.
                  Creswell, J.W. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five                                        Approaches. Third Edition. SAGE Publication: California.

JENIS PENELITIAN KUALITATIF - PENJELASAN GRUNDED THEORY DAN CONTOHNYA

JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF Terdapat beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus, Fenomenologi, Grounde...