JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Terdapat
beberapa jenis-jenis penelitian kualitatif yaitu Naratif, Studi Kasus,
Fenomenologi, Grounded Theory, dan
Etnografi.
A.
PENJELASAN
ETNOGRAFI
Etnografi berfokus pada kelompok yang memiliki
kebudayaan yang sama, mungkin saja kelompok yang kecil, misalnya sejumlah
pengajar dan sekelompok pekerja sosial, tetapi biasanya besar, melibatkan
banyak orang yang berinteraksi, misalnya para pengajar di satu sekolah,
kelompok kerja sosial komunitas.
Etnografi merupakan suatu desain kualitatif yang
penelitinya mendeskripsikan dan menafsirkan pola yang sama dari nilai,
perilaku, keyakinan, dan bahasa dari suatu kelompok berkebuyaan-sama (Harris,
1968). Agar (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa etnografi merpakan suatu
cara untuk mempelajari sebuah kelompok berkebuyaan-sama sekaligus produk akhir
terltulis dari riset tersebut. Para etnografer mempelajari makna dari perilaku,
bahasa, dan interaksi di kalangan para anggota kelompok berkebudayaan-sama
tersebut.
B.
KARAKTERISTIK
ETNOGRAFI
Terdapat
beberapa ciri utama dari etnografi yang baik, yaitu:
1. Etnografi
berfokus pada pengembangan deskripsi yang kompleks dan lengkap tentang kebudayaan dari kelompok, yaitu kelompok
berkebudayaan sama, mungkin saja membahas keseluruhan kelompok atau bagian dari
kelompok.
2. Etnografi
bukanlah studi tentang kebudayaan, tetapi studi tentang perilaku sosial dari
kelompok masyarakat yang dapat diisentifikasi (Wolcott, 2008).
3. Dalam
etnografi, peneliti mencari berbagai pola (juga dideskripsikan sebagai ritual,
perilaku sosial adat, atau kebiasaan) dari aktivitas mental kelompok tersebut,
misalnya ide dan keyakinan yang
diekspresikan melalui bahasa , atau aktivitas material, misalnya bagaimana
mereka berperilaku dalam kelompok
yang diekspresikan melalui tindakan mereka yang diamati oleh peneliti
(Fetterman, 2010).
4. Hal
ini berarti bahwa kelompok berkebudayaan-sama tersebt telah lengkap dan
berinteraksi dalam waktu yang cukup lama hingga dapat membangun pola kerja yang
jelas.
5. Di
samping, itu teori memainkan peran penting dalam memfokuskan perhatian peneliti
ketika melaksanakan etnografi
6. Untuk
dapat menggunakan teori tersebut untuk menemukan pola dari kelompok
berkebudayaan-sama, peneliti harus terlibat dalam kerja lapangan yang lama,
mengumpulkan data terutama melalui wawancara, pengamatan, simbol, artefak, dan
beragam sumber data yang lain (Fetterman dalam Creswell 2013).
7. Biasanya
dalam etnografi yang bagus, tidak banyak diketahui tentang bagaimana kelompok
tersebut berfungsi, misalnya bagaimana geng beroperasi, dan pembaca
mengembangkan pemahaman baru tentang kelompok tersebut.
8. Analisis
ini menghadilkan pemahaman tentan bagaimana kelompok berkebudayaan-sama
berjalan, yaitu bagaimana kelompok tersebut berfungsi dan bagaiamana cara hidup
dari kelompok tersebut.
C.
TIPE/JENIS
ETNOGRAFI
Ada banyak bentuk etnografi, misalnya etnografi
pengakuan, riwayat hidup, auto-etnografi, etnografis-feminis, novel etnografis
dan etnografi visual yang terdapat dalam fotografi dan video, dan media
elektronik. Dua bentuk etnografi yang populer akan ditekankan di sini, yaitu
etnografi realis dan etnografi kritis.
1. Etnografi
Realis
Etnografis
realis adalah pendekatan tradisional yang digunakan oleh para antropolg
kebudayaan. Van Maaen (dalam Creswell, 2013) menjelaskan bahwa etnografi realis
mereflesikan suatu pendirian tertentu yang diambil oleh peneliti terhadap para individu yang sedang diteliti.
Data yang dilaporkan adalah data objektif dalam satu gaya yang terukur yang
tidak terkontaminasi oleh bias pribadi, tujuan politik dan pertimbangan
politik.
2. Etnografi
Kritis
Pendekatan etnografi
kritis merupakan respon terhadap masyarakat sekarang, dimana sistem kekuasaan,
prestise, privilese (hak istimewa), dan otoritas digunakan untuk memarginalkan
individu yang berasal kelas, ras, dan gender yang berbeda. Etnografi kritis
adalah satu jenis riset etnografis dimana para penulisnya memperjuangkan
emanisipasi bagi kelompok masyarakat
yang terpinggirkan (Thomas dalam Creswell, 2013). Para peneliti etnografi
kritis biasanya adalah individu yang
berpikiran politis yang berusaha, melalui riset untuk menentang
ketidaksetaraan dan dominasi (Carspecken & Apple, dalam Creswell, 2013).
Komponan utama dari etnografis kritis diantaranya orientasi bermuatan nilai,
memberdayakan masyarakat dengan memberi mereka otoritas, menentang status que,
dan mengemukakan persoalan tengang kekuasan dan kontrol.
D.
PROSEDUR
PELAKSANAAN RISET ETNOGRAFI
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan
etnografi (realis dan kritis) adalah sebagai berikut:
1. Menentukan
apakah etnografi merupakan desain yang paling tepat digunakan untuk
memperlajari permasalahan riset yang dimaksud. Etnografi sangat tepat digunakan
jika kebutuhannya adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kelompok kebudayaan
berjalan (misalnya bahasa, keyakinan, kebiasaan).
2. Mengidentifikasi
dan menentukan suatu kelompok berkebudayaan-sama yang hendak dipelajari.
Biasanya kelompok yang anggotanya telah hidup bersama dalam waktu yang lama,
sehingga bahasa, pola prilaku, dan sikap telah terbentuk menjadi pola yang
dapat dilihat.
3. Menyeleksi
berbagai tema, permasalahan atau teori kebudayaan yang hendak dipelajari dari
kelompok tersebut. Tema, permasalahan atau teori ini menyediakan suatu kerangka
pengarah bagi studi tentang kelompok kebudayaan-sama tersebut.
4. Untuk
mempelajari konsep kebudayaan, harus ditentukan tipe etnografi mana yang hendak digunakan. Barangkali bagaimana
kelompok tersebut berjalan perlu dideskripsikan, atau etnografis kritis dapat
mengekspos permasalahan seperti kekuasaan, hegemoni, dan memberikan advokasi
bagi kelompok tertentu.
5. Mnegumpulkan
informasi dalam konteks atau lingkungan dimana kelompok tersebut hidup.
6. Dari
banyak sumber data yang telah dikumpulkan, sang etnografer menganalisis data
tersebut untuk menyusun suatu deskripsi tentang kelompok kebudayaan-sama tersebut,
tema yang muncul dari kelompok tersebut, dan penafsiran keseluruhan (Wolcot
dalam Creswell 2013).
7. Menyusun
rangkaian aturan atau teori tentang bagaimana kelompok berkebudayaan-sama
tersebut berjalan sebagai hasil akhir dari analisis ini. Hasil akhirnya adalah potret kebudayaan yang holistik dari
kelompok tersebut yang mencakup pandangan dari para partisipan (emis)
dan juga pandangan dari peneliti (etis). Peneliti juga dapat
memberikan advokasi bagi keperluan kelompok tersebut atau menyarankan perubahan
dalam masyarakat.
E.
CONTOH
PENELITIAN ETNOGRAFI
1. Judul
Penelitian : Studi Etnografi Perilaku
Sosial di Pulau Sebesi Lampung
2. Peneliti : Siti Kurniasih, S.A.B., M.Pd
dan Prisma Tejapermana, S.Sn., M.Pd
3. Latar
Belakang : Keberagaman masyarakat di
Indonesia belum mampu menjadikan hidup bersosialisasi dengan masyarakat
lainnya. Faktanya, masih ada terjadi perkelahian di antara pemuda Desa Simpang
Parit dengan Desa Muara Ponco hanya karena satu kelompok tidak terima ditegur
kelompok lain saat merokok ketika masa puasa. Sementara itu, di Pulau Sebesi
adalah kepulauan yang sangat terkenal kesuburan tanahnya dan sebagai tujuan
pariwisata. Hasil menunjukkan bahwa terbentuknya perilaku masyarakat yang terlihat lewat perilaku masyarakat dalam
kehidupan sehari-hari, antara lain gotong royong, aktif kerja bakti dan saling
berbagi. Perilaku sosial ini juga terlihat pada anak usia dini. Saat wisatawan
datang berkunjung ke daerah mereka, dengan senang hati mereka memberikan
senyuman dan menyapa tanpa takut akan kedatangan orang yang tidak dikenal.
Anak-anak di Pulau Sebesi diketahui mudah membaur dengan teman-teman yang lain
tanpa membedakan faktor apapun. Mereka juga memiliki rasa kepedulian yang
tinggi, terlihat dari kegiatan mereka yang ikut membantu orangtua bekerja tanpa
paksaan dari orangtua mereka.
4. Tujuan
Penelitian : Mendeskripsikan perilaku
sosial anak usia dini di Pulau Sebesi Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
5. Metode
Penelitian : Metode yang digunakan adalah metode
penelitian etnografi dengan pendekatan kualitatif. Pada penelitian ini
menggunakan model spradley yang
dikenal dengan proses penelitian siklikal.
Pada model penelitian ini, kegiatan pengumpulan data dan analisis data dapat
berjalan bersama dalam artian analisis data dilakukan bersamaan dengan pengumpulan
data yang dilakukan peneliti selama di lapangan.
6. Hasil
dan Kesimpulan : Hasil
penelitian menggambarkan bahwa
terdapat kegiatan atau tradisi yang
dilakukan masyarakat di Pulai Sebesi dapat mengembangkan perilaku sosial anak
usia dini sehingga diterima di lingkungan sosialnya. Beberapa kegiatan atau
tradisi yang menunjukkan bahwa kegiatan bersama-sama sering dilakukan di Pulau
Sebesi yaitu bacakan, ngelop, sakai sambayan, pejunjongan, dan kegiatan yang
dilakukan bersama-sama di PAUD. Pada kehidupan sehari-hari, anak-anak di Pulau
Sebesi Lampung Selatan, mau berbaur dan bergabung dalam kegiatan atau bermain
bersama tanda membedakan suku, agama, ras, warna kulit dan usia anak. Mereka
menghargai orang lain, berbagai dengan orang lain serta mengenal tata krama dan
sopan satun sesuai dengan nilai sosial budaya di Pulau Sebesi.
7. Saran
Peneliti : Peneliti juga memberikan
beberapa saran, salah satunya adalah bagi peneliti lain diharapkan adanya
penelitian lanjutan tentang deskripsi tahapan perilaku yang terlihat pada anak
usia dini. Bagi pendidik dan pemerhati anak usia dini.
F.
SUMBER
Kurniasih, A. & Tejapermana, P. 2018. Studi
Etnografi Perilaku Sosial Anak Di Pulau Sebesi Lampung. Jurnal Caksana-Pendidikan Anak Usia Dini Vol 1 No 2.
Creswell, J.W. (2013). Qualitative
Inquiry & Research Design: Choosing Among Five Approaches. Third Edition.
SAGE Publication: California.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar